Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah Debu beterbangan di antara jari-jariku saat kupetik dawai guqin. Malam ini b...

Cerpen: Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah Cerpen: Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah

Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah

Debu beterbangan di antara jari-jariku saat kupetik dawai guqin. Malam ini begitu sunyi, hanya suara jangkrik yang menemani. Melodi Yue Ren Ge – lagu tentang cinta yang tak terbalas – mengalun pilu. Seharusnya aku tidak memainkannya, tapi kenangan itu, seperti anggur tua, semakin memabukkan seiring berjalannya waktu.

Dulu, aku, Mei Lan, adalah putri mahkota dari keluarga Zhao. Keluarga terpandang dengan taman terindah di seluruh kekaisaran. Mawar merah beludru, lili putih yang anggun, anggrek bulan yang misterius… semuanya ada. Lalu, hadir dia, Pangeran Wei, dengan senyum memikat dan seikat bunga liar di tangannya.

"Mei Lan, aku tahu tamannmu penuh keindahan. Tapi bunga liar ini... mereka tumbuh tanpa perawatan, tanpa paksaan. Mereka punya kebebasan sendiri."

Bodohnya aku! Aku terpesona oleh kata-katanya. Aku dibutakan oleh kebebasan yang dijanjikannya. Aku, yang memiliki segalanya, malah menginginkan sesuatu yang asing.

Pangeran Wei menjanjikan bulan dan bintang, tapi dia memberiku debu dan air mata.

Dia menikahi saudara tiriku, Lin Yue. Lin Yue yang selalu iri padaku. Lin Yue yang selalu menginginkan apa yang aku punya.

Pengkhianatan itu menyayat kalbuku lebih dalam dari pedang terhunus. Aku bisa saja melawan. Aku bisa saja membongkar kebusukannya. Tapi aku memilih diam. Bukan karena lemah. Bukan. Aku punya alasan.

RAHASIA.

Rahasia yang akan menghancurkan seluruh keluarga Zhao, jika sampai terungkap. Rahasia tentang kelahiran Lin Yue.

Sejak hari itu, aku menarik diri. Menyepi di paviliun terpencil. Bermain guqin. Menghitung hari.

Beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar tentang Pangeran Wei. Dia jatuh sakit. Sakit aneh yang tak seorang tabib pun bisa menyembuhkan. Kulitnya mengering seperti gurun pasir. Rambutnya rontok. Tubuhnya kurus kering.

Lin Yue menangis meraung-raung. Memohon kesembuhan untuk suaminya.

Aku hanya tersenyum pahit. Aku tahu apa yang meracuni Pangeran Wei. Itu adalah teh yang selalu dia minum. Teh yang setiap hari kusiapkan untuknya, sebelum dia menikahi Lin Yue. Teh yang mengandung akar Pohon Kekal, pohon langka yang hanya tumbuh di dekat makam kaisar pertama. Pohon yang bisa menyembuhkan segala penyakit… atau membunuh secara perlahan jika disalahgunakan.

Aku tidak pernah berniat membunuhnya. Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Aku hanya ingin dia merasakan pedihnya kehilangan. Tapi takdir punya rencana lain. Racun itu, karena dendamku, membunuhnya.

Suatu malam, Lin Yue datang menemuiku. Wajahnya pucat pasi. Matanya merah karena menangis.

"Mei Lan... aku tahu. Aku tahu kau yang meracuni Wei."

Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi.

"Tapi... aku tidak akan membongkarmu. Aku tahu rahasiamu. Rahasia tentang ayah kita."

Dia tahu. Dia selalu tahu.

"Kau dan aku... kita sama. Kita berdua terluka. Kita berdua menyimpan dendam."

Lin Yue pergi. Meninggalkanku sendiri di paviliun yang sunyi.

Pangeran Wei meninggal dunia. Lin Yue, janda yang berduka, menjadi semakin berkuasa. Keluarga Zhao kehilangan pengaruhnya. Taman terindahku terbengkalai.

Suatu hari, aku menemukan seikat bunga liar di depan pintuku.

Aku tahu siapa yang meletakkannya di sana.

Bunga liar itu... kini layu dan kering, seperti hatiku.

Dan aku, Mei Lan, menunggu badai berikutnya, dengan segelas teh dan sebuah senyuman...

You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Fleksibel Kerja

Pedang yang Menyimpan Kenangan Terakhir Malam itu, salju turun dengan ganas . Setiap butir es terasa seperti jarum yang menusuk kulit, men...

Dracin Seru: Pedang Yang Menyimpan Kenangan Terakhir Dracin Seru: Pedang Yang Menyimpan Kenangan Terakhir

Pedang yang Menyimpan Kenangan Terakhir

Malam itu, salju turun dengan ganas. Setiap butir es terasa seperti jarum yang menusuk kulit, mencerminkan dinginnya hati Ren, pria yang berdiri di pelataran kuil yang sunyi. Di tangannya, tergenggam erat Lingering Sorrow, pedang pusaka yang menyimpan rahasia keluarganya, dan kenangan terakhir—kenangan akan pengkhianatan.

Dupa terbakar di altar, asapnya menari-nari seperti jiwa yang tersiksa. Di tengah altar, berlututlah Mei, wanita yang dicintainya, sekaligus yang paling dibencinya. Gaun merahnya, yang dulu melambangkan cinta membara, kini ternoda noda darah yang membeku.

"Ren…" bisik Mei, suaranya parau, air mata membekas di pipinya yang pucat. "Maafkan aku."

Ren tertawa hambar. Tawa yang tidak mengandung sedikitpun kebahagiaan. "Maaf? Setelah semua yang kau lakukan? Setelah semua kebohongan dan pengkhianatan?"

Dulu, mereka adalah dua jiwa yang terikat takdir. Janji cinta diukir di bawah pohon sakura yang bermekaran, janji setia yang kini terasa seperti abu di lidah. Tapi, Mei menyimpan rahasia. Ia adalah putri dari klan musuh, klan yang bertanggung jawab atas kematian orang tua Ren. Rahasia ini terbongkar, menghancurkan fondasi cinta mereka, meninggalkan hanya kebencian dan dendam.

"Aku mencintaimu, Ren. Sungguh," ucap Mei, menatap Ren dengan mata memohon.

"Cinta?" Ren mengangkat Lingering Sorrow. Kilau pedang itu memantulkan cahaya rembulan, menampakkan wajahnya yang keras, tanpa ampun. "Cinta adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli lagi."

Ingatan melintas di benaknya: Ayahnya, berlumuran darah, mengucapkan pesan terakhir. Ibunya, menangis dalam diam, memeluknya erat sebelum pergi untuk selamanya. Semua itu karena Klan Naga Hitam, klan Mei.

"Kau tahu, Mei," Ren berkata dengan suara pelan namun mematikan, "Dulu, aku pernah bersumpah di depan makam orang tuaku. Aku bersumpah akan membalas dendam. Aku bersumpah akan membuat Klan Naga Hitam membayar semua yang telah mereka lakukan."

Mei memejamkan mata. Ia tahu ini akan terjadi. Ia telah menerima takdirnya. "Lakukanlah, Ren. Akhiri semuanya."

Dengan gerakan cepat dan anggun, Lingering Sorrow melayang di udara, menebas malam yang sunyi. Salju berubah merah. Dupa terus mengepul, menutupi bau amis darah.

Ren berdiri di sana, di atas salju yang ternoda, memegang pedang yang basah. Dendamnya telah terbalas. Tapi, kemenangan itu terasa pahit, hampa. Ia telah kehilangan segalanya. Cinta. Kebahagiaan. Kemanusiaannya.

Ia menatap langit yang kelabu.

Satu janji telah ditepati, tapi jiwa yang lain akan terus bergentayangan.

You Might Also Like: Distributor Skincare Supplier Skincare

Xiulan, dulu dikenal sebagai mutiara Kekaisaran Zhao, sekarang hanya bayangan dari dirinya yang dulu. Cinta dan kekuasaan, dua pedang berma...

FULL DRAMA! Ia Tersenyum Saat Aku Menangis, Karena Itu Janji Kami Dulu FULL DRAMA! Ia Tersenyum Saat Aku Menangis, Karena Itu Janji Kami Dulu

Xiulan, dulu dikenal sebagai mutiara Kekaisaran Zhao, sekarang hanya bayangan dari dirinya yang dulu. Cinta dan kekuasaan, dua pedang bermata dua, telah mengiris hatinya. Cinta pada Pangeran Mahkota yang berkhianat, kekuasaan yang direnggut paksa oleh intrik istana. Ia menyaksikan ayahnya, seorang jenderal besar yang loyal, difitnah dan dieksekusi di depan matanya. DUNIA Xiulan hancur.

Dulu, ia adalah kelembutan dan tawa. Sekarang, di matanya hanya terpancar ketenangan yang membeku. Ia berlindung di Biara Bulan Es, bukan untuk mencari kedamaian, melainkan untuk merencanakan. Di balik jubah biksu yang sederhana, tersembunyi seorang wanita yang tengah menempa baja dari patahan hatinya. Ia belajar seni bela diri kuno, membaca kitab strategi perang, dan mengasah kecerdasannya menjadi senjata yang mematikan.

Luka di hatinya tidak pernah sembuh total, tapi ia belajar mengubahnya menjadi sumber kekuatan. Seperti bunga teratai yang tumbuh di lumpur, ia memancarkan keindahan di tengah kehancuran. Setiap malam, ia bermimpi tentang senyum Pangeran Mahkota saat ayahnya dieksekusi. Senyum itu… menjadi bahan bakar dendamnya.

Tahun-tahun berlalu. Xiulan kembali ke istana dengan identitas baru: seorang penasihat militer jenius, tanpa nama, tanpa masa lalu. Ia menari dalam bayang-bayang, menarik benang-benang kekuasaan dengan tangan sehalus sutra. Ia membisikkan saran yang menghancurkan aliansi, menyebarkan keraguan di hati para jenderal, dan menanam benih pemberontakan.

Pangeran Mahkota, kini Kaisar Zhao, tidak mengenalinya. Ia terpukau oleh kecerdasan dan ketenangannya. Ia bahkan jatuh cinta pada wanita tanpa nama itu, tanpa menyadari bahwa ia sedang berdansa di ujung pedang.

Saat Kaisar Zhao berada di puncak kekuasaannya, Xiulan melancarkan serangannya. Bukan dengan teriakan amarah, melainkan dengan perhitungan dingin dan keheningan mematikan. Bukti pengkhianatan Kaisar Zhao, yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, terungkap ke hadapan para bangsawan. Pasukan pemberontak, yang diam-diam dilatih dan dipimpin oleh pengikut setia ayahnya, mengepung istana.

Di tengah kekacauan, Xiulan akhirnya berhadapan dengan Kaisar Zhao. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan. Hanya KETENANGAN. Ia melihat ketakutan di mata Kaisar Zhao, lalu tersenyum.

"Kau ingat janji kita dulu?" bisik Xiulan, suaranya dingin seperti es. "Kau berjanji akan tersenyum saat aku menangis. Sekarang, giliranmu."

Kaisar Zhao runtuh. Kekuasaan, cinta, dan nyawanya direnggut oleh wanita yang dulu pernah ia hancurkan.

Xiulan berdiri di atas reruntuhan kekaisaran, bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai hakim. Ia telah membalaskan dendam, tapi hatinya tetap sepi. Ia memandang langit, dan satu tetes air mata mengalir di pipinya.

Ia telah menaklukkan kekaisaran, tapi kekaisaran yang sebenarnya adalah dirinya sendiri, dan kini… ia akhirnya siap memerintahnya.

You Might Also Like: Bajaj Discover 125 St Travel Discover

Hujan menggigil di luar jendela Ruang Tahta, persis seperti hatiku. Dulu, di ruangan megah ini, janji-janji diukir, terpatri dalam senyum d...

Cerpen Keren: Janji Itu Tertinggal Di Ruang Tahta, Bersama Bayangan Kita Yang Tak Pernah Pulang Cerpen Keren: Janji Itu Tertinggal Di Ruang Tahta, Bersama Bayangan Kita Yang Tak Pernah Pulang

Hujan menggigil di luar jendela Ruang Tahta, persis seperti hatiku. Dulu, di ruangan megah ini, janji-janji diukir, terpatri dalam senyum dan tatap mata yang terlalu percaya. Dulu, tanganmu menggamit tanganku, hangat dan pasti, saat kita berjanji akan mengubah dunia, bersama.

Sekarang, hanya aku yang berdiri di sini. Hujan membasahi sutra merah yang dulu kita pilih bersama. Cahaya lentera di sudut ruangan meredup, nyaris padam, seperti harapan yang kupegang erat.

Lihatlah, bayangan kita. Patah dan terpisah, menari-nari di dinding, mengejekku dengan kenangan yang begitu indah, begitu menyakitkan. Kau ingat, Li Wei? Malam bulan purnama saat kau berjanji akan selalu melindungiku? Kau ingat ciuman pertama kita di bawah pohon plum yang sedang mekar?

Kau memilih tahta, Li Wei. Kau memilih kekuasaan. Kau memilih dia.

Setiap malam, aku menatap bayanganmu, mencoba mencari sisa-sisa cinta yang dulu kurasakan. Tapi yang kutemukan hanya pengkhianatan. Pengkhianatan yang dingin dan menusuk, seperti pisau yang kau tancapkan tepat di jantungku.

Aku membiarkanmu mengambil segalanya. Kerajaanku. Cintaku. Harga diriku. Aku membiarkanmu melihatku merana, mengira aku lemah dan tak berdaya.

Kau salah.

Bertahun-tahun aku menahan rasa sakit ini, membiarkannya mengakar dalam jiwaku. Bertahun-tahun aku menyusun rencana, merajut setiap benang, setiap langkah, dengan kesabaran seorang pembunuh.

Hujan semakin deras. Bayangan di dinding semakin kelam. Di balik senyum palsuku, di balik mata yang selalu menunduk, aku membangun kerajaan baru. Kerajaan yang dibangun di atas abu cintamu.

Kau pikir kau akan bebas, Li Wei? Kau pikir kau akan menikmati tahta yang kau rebut dengan darah dan air mata?

Tidak.

Aku telah menanam benih kehancuranmu. Aku telah meracuni sumber airmu. Aku telah memanipulasi setiap orang di sekitarmu, menjadikan mereka pion dalam permainan mautku.

Kau akan melihat kerajaanku runtuh, Li Wei. Kau akan merasakan sakit yang berlipat ganda dari yang kurasakan. Kau akan kehilangan segalanya, seperti aku dulu.

Dan saat itu tiba, saat kau berlutut di hadapanku, memohon ampun...

…Kau baru akan menyadari bahwa "dia" yang kau pilih, sebenarnya adalah aku yang menyamar selama ini.

You Might Also Like: Mimpi Memberi Makan Kucing Menurut

Bayangan yang Menyanyikan Lagu Kematian Hujan kota malam itu jatuh seperti air mata. Di balik jendela apartemen kecilku, cahaya neon meman...

Wajib Baca! Bayangan Yang Menyanyikan Lagu Kematian Wajib Baca! Bayangan Yang Menyanyikan Lagu Kematian

Bayangan yang Menyanyikan Lagu Kematian

Hujan kota malam itu jatuh seperti air mata. Di balik jendela apartemen kecilku, cahaya neon memantul di layar ponsel. Notifikasi. Satu lagi. Bukan darinya.

Sudah tiga bulan. Tiga bulan sejak suara ANGEL menghilang dari kehidupanku, menyisakan KENANGAN yang berputar-putar seperti kaset rusak. Kami bertemu di dunia maya, di antara jutaan emoji dan GIF, di sebuah forum penggemar lagu indie. Angel, dengan selera musiknya yang unik dan senyum virtual yang selalu berhasil membuatku tersenyum.

Aroma kopi memenuhi ruangan. Kopinya, mungkin. Aku masih menyimpan bubuk kopi yang terakhir kali dia bawa, aroma pahit dan manis yang kini terasa seperti penghianatan.

Chat kami penuh dengan janji yang belum terpenuhi. Konser band favorit di akhir pekan, perjalanan ke pantai saat matahari terbit, mimpi-mimpi konyol tentang membuka kedai kopi kecil bersama. Kini, semua itu hanya sisa chat yang tak terkirim, terjebak di antara enter dan delete.

Kehilangan itu samar. Tidak ada perpisahan resmi, tidak ada pertengkaran besar. Hanya sunyi. Sunyi yang menusuk lebih dalam dari kata-kata kasar. Seperti melodi yang terputus di tengah klimaks.

Misteri ini mencekikku. Siapa sebenarnya Angel? Mengapa dia menghilang? Aku mulai menggali. Melacak jejak digitalnya, membaca ulang setiap percakapan, menganalisis setiap like dan share.

Dan kemudian, aku menemukannya. Sebuah foto lama, terkubur di antara unggahan yang tak terhitung jumlahnya. Foto seorang gadis dengan senyum identik dengan senyum virtual Angel, berdiri di depan rumah sakit. Captionnya: "Menunggu fajar setelah malam panjang."

Kenyataan menghantamku seperti gelombang tsunami. Angel sakit. Sangat sakit. Dan dia menyembunyikannya dariku. Mungkin karena tidak ingin aku bersedih, mungkin karena alasan lain yang tidak akan pernah aku ketahui.

Rahasia itu akhirnya terungkap, tapi terlalu terlambat.

Malam itu, aku duduk di depan laptopku, jari-jariku gemetar di atas keyboard. Aku menulis pesan. Bukan pesan yang penuh amarah, bukan pesan yang menuntut penjelasan. Hanya ucapan terima kasih. Terima kasih untuk senyum, terima kasih untuk mimpi-mimpi, terima kasih untuk musik.

Aku mengirimkannya ke akun Angel yang sudah lama mati.

Kemudian, aku melakukan sesuatu yang mungkin akan mengejutkannya. Aku menghapus semua foto dan chat kami. Semua kenangan digital yang mengikatku padanya. Ini bukan tentang melupakannya, tapi tentang membebaskan diriku.

Balas dendam lembut.

Pesan terakhir.

Senyum terakhir. Aku membayangkan senyum Angel, tersenyum padaku dari kejauhan.

Keputusan yang menutup segalanya tanpa kata. Aku menutup laptop. Mematikan lampu.

Di balik jendela, hujan masih turun. Aku menatap langit kota yang gelap, merasakan kehampaan yang aneh.

Dan saat itulah, aku menyadari bahwa beberapa bayangan memang lebih baik dibiarkan menyanyi lagu kematiannya sendiri…di dalam ingatan.

You Might Also Like: Distributor Kosmetik Fleksibel Kerja

Kau Mati di Sisiku, Tapi Rasanya Seperti Dilahirkan Kembali Embun pagi menggantung di kelopak peoni , sama persis dengan bulir air mata ya...

Bikin Penasaran: Kau Mati Di Sisiku, Tapi Rasanya Seperti Dilahirkan Kembali Bikin Penasaran: Kau Mati Di Sisiku, Tapi Rasanya Seperti Dilahirkan Kembali

Kau Mati di Sisiku, Tapi Rasanya Seperti Dilahirkan Kembali

Embun pagi menggantung di kelopak peoni, sama persis dengan bulir air mata yang menggenang di pelupuk mata Bai Lianhua. Ia memandang nisan dingin itu, batu pualam kelabu yang mengukir nama Zhang Wei. Cintanya.

"Wei, sudah tiga tahun," bisiknya, suaranya serak diterpa angin pegunungan. "Tiga tahun sejak malam itu. Malam ketika kau menyelamatkanku."

Bai Lianhua hidup dalam kebohongan. Kebohongan yang dia rajut sendiri, lapis demi lapis, untuk menutupi rasa sakit yang menganga. Ia, pewaris tunggal Keluarga Bai yang kaya raya, mengaku sebagai saksi mata kecelakaan yang merenggut nyawa Zhang Wei. Ia bahkan bersumpah di depan seluruh keluarga Zhang untuk menemukan pelaku tabrak lari yang pengecut itu.

Namun, di balik sumpah itu, tersembunyi kebenaran yang MENGERIKAN.

Zhang Wei tidak meninggal karena tabrak lari.

Ling Xiaoyu, detektif muda yang keras kepala, mencium kejanggalan dalam kasus ini. Ada yang tidak beres dengan alibi Bai Lianhua. Setiap senyum, setiap air mata yang ditumpahkan wanita itu terasa palsu di matanya. Xiaoyu bersumpah akan mengungkap kebenaran, meski kebenaran itu akan menghancurkan segalanya.

"Nona Bai, Anda yakin dengan kesaksian Anda?" tanya Xiaoyu suatu sore, di tengah kebun peoni milik keluarga Bai.

Lianhua tersenyum manis, sebuah senyum yang terasa bagai belati yang tersembunyi. "Detektif Ling, saya sudah menjawab pertanyaan ini ratusan kali. Saya melihat semuanya. Mobil itu datang dari arah sana, menabrak Wei, lalu kabur."

Tapi Xiaoyu tidak menyerah. Ia menggali lebih dalam, menyelami labirin kebohongan yang dibangun Lianhua. Ia menemukan saksi yang melihat mobil mewah dengan plat nomor yang sangat familiar meninggalkan lokasi kejadian. Mobil itu… milik Keluarga Bai.

Konflik mencapai puncaknya pada malam peringatan kematian Zhang Wei yang ketiga. Xiaoyu, dengan bukti yang tak terbantahkan, menghadapkan Lianhua di depan seluruh keluarga Zhang.

"Nona Bai, atau seharusnya aku memanggilmu pembunuh?"

Lianhua membeku. Seluruh dunia terasa berhenti berputar. Kebohongan yang ia jaga mati-matian selama ini akhirnya runtuh.

"Anda… Anda membunuh Zhang Wei," lanjut Xiaoyu, suaranya tajam bagai pecahan kaca. "Bukan karena kecelakaan. Tapi karena cinta yang ditolak."

Tangis pilu pecah di antara keluarga Zhang. Mereka menatap Lianhua dengan tatapan penuh kebencian dan penghinaan. Lianhua akhirnya mengaku. Ia menceritakan semuanya, dengan suara bergetar dan air mata yang membasahi pipi. Ia mencintai Zhang Wei, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Dalam amarah dan keputusasaan, ia menabraknya.

"Aku… aku tidak sengaja!" isaknya. "Aku hanya ingin membuatnya sadar! Aku mencintainya!"

Balas dendam Xiaoyu tidak berteriak. Ia tidak memaki. Ia hanya tersenyum dingin, senyum yang menyimpan perpisahan abadi.

"Anda sudah menyerahkan diri Anda, Nona Bai. Tapi, ada satu hal lagi yang harus Anda tahu. Zhang Wei… dia mencintai saya."

Lianhua terhuyung ke belakang. Kata-kata itu bagai racun yang membakar seluruh jiwa raganya. Kebohongan dan penyesalan kini menjadi teman abadinya. Ia hancur, bukan karena hukuman penjara, tapi karena kenyataan bahwa ia telah menghancurkan cinta sejati, dan kehilangan segalanya.

Di balik senyum kemenangan Xiaoyu, tersimpan luka yang mendalam. Ia telah menemukan kebenaran, tapi kebenaran itu… terlalu pahit untuk ditelan.

Malam itu, Xiaoyu menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal: "Permainan baru saja dimulai."

You Might Also Like: Cerpen Terbaru Aku Membakar Istana Itu

Cinta yang Terjebak Dalam Reinkarnasi Aroma Osmanthus selalu menusuk kalbunya, membawa Lin Wei ke masa lalu yang kabur, namun terasa begi...

Cerita Populer: Cinta Yang Terjebak Dalam Reinkarnasi Cerita Populer: Cinta Yang Terjebak Dalam Reinkarnasi

Cinta yang Terjebak Dalam Reinkarnasi

Aroma Osmanthus selalu menusuk kalbunya, membawa Lin Wei ke masa lalu yang kabur, namun terasa begitu nyata. Ia, seorang mahasiswi desain interior di Shanghai, seringkali mendapati dirinya melukis sketsa paviliun dan danau yang asing, padahal ia tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Mimpi-mimpi aneh menghantuinya: seorang wanita berpakaian sutra merah, menangis di bawah pohon Osmanthus yang bersemi.

Semua berubah saat ia bertemu dengan Zhang Wei, CEO sebuah perusahaan teknologi raksasa. Tatapannya, senyumnya... Semuanya terasa begitu FAMILIAR. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sebuah bisikan halus di benaknya: AWAS.

Zhang Wei terpesona oleh Lin Wei. Ia merasa seolah telah mengenalnya seumur hidup. Ia membawanya ke sebuah restoran mewah, dan ketika pelayan menyajikan teh Osmanthus, Lin Wei tiba-tiba membeku.

"Teh ini..." bisiknya, suaranya bergetar.

Kilasan demi kilasan menyerbu pikirannya. Ia melihat dirinya, Yu Fei, seorang putri kekaisaran di Dinasti Ming. Ia melihat Zhang Wei, seorang jenderal kepercayaan kekaisaran bernama Zhao Liang. Ia melihat PENGKHIANATAN. Zhao Liang, yang ia cintai sepenuh hati, telah meracuninya demi merebut tahta untuk dirinya sendiri.

Ingatan itu menghantamnya seperti badai. Dendam membara di dadanya. Tapi bukan dendam yang membabi buta. Ia tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu.

Lin Wei menatap Zhang Wei, senyum pahit terukir di bibirnya. "Zhang Wei, aku tahu siapa dirimu. Aku ingat semuanya."

Zhang Wei tampak kebingungan. "Lin Wei, apa maksudmu?"

Lin Wei berdiri. "Kau akan segera mengerti." Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon. "Batalkan semua proyek kemitraan dengan perusahaan Zhang. Aku tidak ingin ada hubungannya dengan mereka."

Ia tahu, keputusannya ini akan menghancurkan karir Zhang Wei. Bukan dengan racun atau pedang, melainkan dengan kekuatan ekonomi, dengan keputusan bisnis yang tak terhindarkan. Balas dendam yang SANGAT halus.

Ia berjalan keluar restoran, meninggalkan Zhang Wei yang terpaku di tempatnya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma Osmanthus, kali ini terasa lebih manis, lebih damai.

Di kejauhan, ia melihat seorang pria berdiri di bawah pohon Osmanthus yang bersemi. Tatapannya kosong, penuh penyesalan. Lin Wei tahu, ia juga mengingat. Pria itu adalah arwah kaisar yang ia cintai di kehidupan lampau, korban pengkhianatan Zhao Liang.

Lin Wei tersenyum tipis. Ia telah membalas dendamnya. Sekarang, saatnya untuk melanjutkan hidup. Tapi, bisikan halus di benaknya masih terasa. Sebuah janji yang belum terpenuhi.

Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi, dan cerita ini akan dimulai dari awal.

You Might Also Like: 7 Fakta Arti Mimpi Masuk Rumah Burung