Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah
Debu beterbangan di antara jari-jariku saat kupetik dawai guqin. Malam ini begitu sunyi, hanya suara jangkrik yang menemani. Melodi Yue Ren Ge – lagu tentang cinta yang tak terbalas – mengalun pilu. Seharusnya aku tidak memainkannya, tapi kenangan itu, seperti anggur tua, semakin memabukkan seiring berjalannya waktu.
Dulu, aku, Mei Lan, adalah putri mahkota dari keluarga Zhao. Keluarga terpandang dengan taman terindah di seluruh kekaisaran. Mawar merah beludru, lili putih yang anggun, anggrek bulan yang misterius… semuanya ada. Lalu, hadir dia, Pangeran Wei, dengan senyum memikat dan seikat bunga liar di tangannya.
"Mei Lan, aku tahu tamannmu penuh keindahan. Tapi bunga liar ini... mereka tumbuh tanpa perawatan, tanpa paksaan. Mereka punya kebebasan sendiri."
Bodohnya aku! Aku terpesona oleh kata-katanya. Aku dibutakan oleh kebebasan yang dijanjikannya. Aku, yang memiliki segalanya, malah menginginkan sesuatu yang asing.
Pangeran Wei menjanjikan bulan dan bintang, tapi dia memberiku debu dan air mata.
Dia menikahi saudara tiriku, Lin Yue. Lin Yue yang selalu iri padaku. Lin Yue yang selalu menginginkan apa yang aku punya.
Pengkhianatan itu menyayat kalbuku lebih dalam dari pedang terhunus. Aku bisa saja melawan. Aku bisa saja membongkar kebusukannya. Tapi aku memilih diam. Bukan karena lemah. Bukan. Aku punya alasan.
RAHASIA.
Rahasia yang akan menghancurkan seluruh keluarga Zhao, jika sampai terungkap. Rahasia tentang kelahiran Lin Yue.
Sejak hari itu, aku menarik diri. Menyepi di paviliun terpencil. Bermain guqin. Menghitung hari.
Beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar tentang Pangeran Wei. Dia jatuh sakit. Sakit aneh yang tak seorang tabib pun bisa menyembuhkan. Kulitnya mengering seperti gurun pasir. Rambutnya rontok. Tubuhnya kurus kering.
Lin Yue menangis meraung-raung. Memohon kesembuhan untuk suaminya.
Aku hanya tersenyum pahit. Aku tahu apa yang meracuni Pangeran Wei. Itu adalah teh yang selalu dia minum. Teh yang setiap hari kusiapkan untuknya, sebelum dia menikahi Lin Yue. Teh yang mengandung akar Pohon Kekal, pohon langka yang hanya tumbuh di dekat makam kaisar pertama. Pohon yang bisa menyembuhkan segala penyakit… atau membunuh secara perlahan jika disalahgunakan.
Aku tidak pernah berniat membunuhnya. Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Aku hanya ingin dia merasakan pedihnya kehilangan. Tapi takdir punya rencana lain. Racun itu, karena dendamku, membunuhnya.
Suatu malam, Lin Yue datang menemuiku. Wajahnya pucat pasi. Matanya merah karena menangis.
"Mei Lan... aku tahu. Aku tahu kau yang meracuni Wei."
Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Tapi... aku tidak akan membongkarmu. Aku tahu rahasiamu. Rahasia tentang ayah kita."
Dia tahu. Dia selalu tahu.
"Kau dan aku... kita sama. Kita berdua terluka. Kita berdua menyimpan dendam."
Lin Yue pergi. Meninggalkanku sendiri di paviliun yang sunyi.
Pangeran Wei meninggal dunia. Lin Yue, janda yang berduka, menjadi semakin berkuasa. Keluarga Zhao kehilangan pengaruhnya. Taman terindahku terbengkalai.
Suatu hari, aku menemukan seikat bunga liar di depan pintuku.
Aku tahu siapa yang meletakkannya di sana.
Bunga liar itu... kini layu dan kering, seperti hatiku.
Dan aku, Mei Lan, menunggu badai berikutnya, dengan segelas teh dan sebuah senyuman...
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Fleksibel Kerja