**Tahta Itu Berdarah Oleh Keheningan, Karena Tak Ada Lagi Yang Berani Menyebut Nama Kita** Dinding istana bisu, menjulang tinggi bagai sak...

Wajib Baca! Tahta Itu Berdarah Oleh Keheningan, Karena Tak Ada Lagi Yang Berani Menyebut Nama Kita Wajib Baca! Tahta Itu Berdarah Oleh Keheningan, Karena Tak Ada Lagi Yang Berani Menyebut Nama Kita

**Tahta Itu Berdarah Oleh Keheningan, Karena Tak Ada Lagi Yang Berani Menyebut Nama Kita** Dinding istana bisu, menjulang tinggi bagai saksi bisu tragedi yang telah lama membatu. Di singgasana yang dingin, Kaisar Zhao Wei termenung. Bukan emas permata yang menghiasi benaknya, melainkan wajah Lin Yue, cinta *terlarang* yang kini hanya tinggal kenangan pahit. Dahulu, di taman bunga plum yang bermekaran, mereka bersumpah. Janji untuk saling memiliki, janji untuk menaklukkan dunia bersama. Zhao Wei yang ambisius, dan Lin Yue yang luhur, bagaikan dua sisi koin yang tak terpisahkan. Namun, ambisi memanggang jiwa, kekuasaan meracuni hati. Demi tahta, Zhao Wei menikahi putri dari kerajaan tetangga, mengkhianati janji suci mereka. Kini, di malam sunyi yang mencekam, Zhao Wei merindukan Lin Yue lebih dari sekadar udara yang dihirupnya. Bayang-bayang Lin Yue menari-nari di balik tirai sutra, setiap langkahnya bagaikan pisau yang mengiris jantungnya. *"Yue'er…"* bisiknya parau, suaranya menghilang ditelan keheningan istana. Dulu, ketika bibir mereka bersentuhan di bawah rembulan, Lin Yue berjanji akan selalu setia. Namun, cinta yang dikhianati berubah menjadi bara api yang membakar. Lin Yue, dengan hatinya yang hancur, memilih jalan sunyi—menjadi biksuni di kuil terpencil, mengabdikan diri pada Sang Pencipta, menjauhi hiruk pikuk dunia yang telah merampas kebahagiaannya. Momen yang paling menghantui Zhao Wei adalah saat terakhir kali ia melihat Lin Yue. Di tengah kerumunan orang yang bersorak menyambut pernikahannya, ia melihat Lin Yue berdiri di kejauhan, matanya memancarkan kesedihan yang tak terucapkan. Tidak ada amarah, tidak ada makian, hanya kekosongan. Kekosongan yang jauh lebih mengerikan daripada pedang yang mengancam nyawanya. Bertahun-tahun berlalu. Zhao Wei memerintah dengan tangan besi, memperluas wilayah, dan menumpuk kekayaan. Namun, setiap malam, ia terbangun dalam keringat dingin, dihantui oleh tatapan mata Lin Yue. Ia telah mendapatkan *segalanya*, tapi kehilangan *satu-satunya*. Kemudian, sebuah surat tiba dari kuil tempat Lin Yue mengasingkan diri. Lin Yue sakit parah dan ingin bertemu dengannya. Zhao Wei bergegas ke kuil, hatinya berdebar kencang antara harapan dan ketakutan. Di kamarnya yang sederhana, Lin Yue terbaring lemah. Wajahnya pucat, namun matanya masih memancarkan ketenangan yang sama. "Zhao Wei…" bisiknya lirih. Zhao Wei berlutut di sisi ranjang, menggenggam tangannya yang kurus. "Yue'er, maafkan aku… Aku menyesal…" Lin Yue tersenyum tipis. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Takdir telah menuliskan cerita kita dengan cara yang berbeda." Ia menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Zhao Wei. "Simpan ini. Ingatlah aku…" Lin Yue menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan Zhao Wei dalam kesunyian yang abadi. Zhao Wei membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat jepit rambut bunga plum—jepit rambut yang dulu ia berikan kepada Lin Yue sebagai tanda cinta mereka. Di bawah jepit rambut, terdapat selembar kertas bertuliskan satu kalimat: *"Racun yang merenggut nyawaku… adalah hadiah dari istri kaisar."* Keadilan memang tidur panjang, namun takdir memiliki cara yang misterius untuk menuntut balas. *Benih dendam telah ditanam, dan musim semi akan segera tiba.*
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Yang Cocok

Baiklah, inilah kisah Dracin emosional berjudul 'Senyum yang Menghilang di Balik Hujan' dengan sentuhan puitis dan konflik yang men...

Kisah Seru: Senyum Yang Menghilang Di Balik Hujan Kisah Seru: Senyum Yang Menghilang Di Balik Hujan

Baiklah, inilah kisah Dracin emosional berjudul 'Senyum yang Menghilang di Balik Hujan' dengan sentuhan puitis dan konflik yang menekan: **Senyum yang Menghilang di Balik Hujan** Hujan selalu mengingatkannya pada senyum Ling Yue. Senyum yang dulu menghangatkan hatinya, sekarang hanyalah bayangan dingin di balik tirai kenangan. Xiao Zhen, nama pemuda itu, hidup dalam kebohongan yang terjalin indah, sebuah kebohongan yang dirajut oleh Ling Yue sendiri. Ling Yue, seorang pelukis yang terkenal dengan kanvas-kanvasnya yang penuh warna, menyimpan rahasia kelam di balik paletnya. Rahasia itu adalah Xiao Zhen. Xiao Zhen yang lugu, yang mencintainya tanpa syarat, adalah buah dari malam yang seharusnya tidak pernah terjadi. Malam ketika kesucian Ling Yue direnggut, dan Xiao Zhen lahir dari rasa malu dan keputusasaan. Xiao Zhen tumbuh besar dalam kebahagiaan semu, di bawah asuhan Ling Yue yang berwajah dua. Di depan Xiao Zhen, ia adalah ibu yang penuh kasih. Di belakangnya, ia adalah wanita yang diliputi rasa bersalah dan takut, takut kebenaran akan terungkap dan menghancurkan dunia yang telah dibangunnya dengan susah payah. "Xiao Zhen, senyummu adalah matahariku," ucap Ling Yue suatu senja, di bawah rintik hujan. Kata-kata itu terngiang di telinga Xiao Zhen bertahun-tahun kemudian, ketika ia mulai mencari kebenaran. Pencariannya dimulai dari sepucuk surat tua yang ditemukan secara tidak sengaja di loteng rumah. Surat dari seorang pria bernama Li Wei, yang menyebut Ling Yue dengan panggilan 'kekasih'. Surat yang penuh dengan penyesalan dan kerinduan. Xiao Zhen *MULA-MULA* merasa bingung. Kemudian, perlahan, kepingan-kepingan puzzle mulai tersusun. Ia mulai menyelidiki masa lalu Ling Yue, menggali kubangan-kubangan dosa yang disembunyikan rapat. Semakin dalam ia menyelam, semakin ia menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah *KEBOHONGAN BESAR*. Setiap kebenaran yang terungkap terasa seperti tusukan belati di jantungnya. Ibunya, wanita yang ia cintai dan hormati, ternyata telah membohonginya selama ini. Li Wei, pria yang namanya selalu dihindari oleh Ling Yue, ternyata adalah ayah kandungnya. Dan yang TERBURUK dari semuanya, Ling Yue menyembunyikan kebenaran tentang pemerkosaan itu, yang menjadi akar dari segala kebohongan. "Kenapa, Ibu? KENAPA?!" Xiao Zhen bertanya, dengan air mata yang membasahi pipinya, ketika ia akhirnya menghadapi Ling Yue. Ling Yue hanya bisa menangis. Ia mengakui semuanya, dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia memohon ampun, mengatakan bahwa ia melakukan semua itu demi melindungi Xiao Zhen. Namun, Xiao Zhen sudah tidak bisa memaafkan. Luka yang menganga terlalu dalam. Rasa sakitnya terlalu membakar. ***Balas dendamnya tidak berupa teriakan amarah atau tindakan kekerasan.*** Balas dendamnya adalah senyum yang sama indahnya dengan senyum Ling Yue. Senyum yang ia berikan kepada Ling Yue ketika ia mengucapkan kata-kata terakhirnya: "Aku mengerti. Sekarang, aku akan pergi. Aku akan mencari ayahku, dan aku akan *melupakanmu*." Xiao Zhen pergi, meninggalkan Ling Yue yang hancur di bawah rintik hujan. Hujan yang kini terasa seperti air mata penyesalan abadi. Beberapa tahun kemudian, Xiao Zhen menjadi pelukis yang terkenal, sama seperti Ling Yue. Kanvas-kanvasnya penuh dengan warna, tetapi ada satu warna yang selalu hilang: warna senyum ibunya. Ia tidak pernah menemui Li Wei, tidak pernah benar-benar melupakan Ling Yue. Ia hanya mengubah cara ia mengingat. Di sebuah pameran tunggal Xiao Zhen, terpampang sebuah lukisan berjudul "Senyum yang Menghilang di Balik Hujan". Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang cantik, tetapi matanya dipenuhi dengan kesedihan yang tak terhingga. Di bawah lukisan itu, tertera sebuah kutipan: "Apakah hati yang terluka bisa benar-benar sembuh, atau hanya menjadi lebih terampil dalam menyembunyikan lukanya?"
You Might Also Like: Jual Skincare Anti Jerawat Dan Anti

Baiklah, inilah kisah puitis bergaya Dracin klasik berjudul 'Pelukan yang Terjadi di Tengah Kuburan', dengan fokus pada bahasa yang...

Kisah Seru: Pelukan Yang Terjadi Di Tengah Kuburan Kisah Seru: Pelukan Yang Terjadi Di Tengah Kuburan

Baiklah, inilah kisah puitis bergaya Dracin klasik berjudul 'Pelukan yang Terjadi di Tengah Kuburan', dengan fokus pada bahasa yang indah, metaforis, dan sentuhan misteri: *** **Pelukan yang Terjadi di Tengah Kuburan** Kabut senja merangkul nisan-nisan yang berjajar, seperti tangan-tangan hantu yang merindukan kehangatan. Di sanalah dia berdiri, Xiao Qing, gaun putihnya berkibar ditiup angin *sepoi-sepoi kematian*. Wajahnya pucat, rembulan sabit memantulkan cahaya ke mata zamrudnya, yang memendam lautan kesedihan yang tak terucapkan. Dia menunggu, bukan kematian, bukan pula kedamaian, melainkan kehadiran yang selalu hadir dalam mimpinya, Lin Feng. Sosoknya muncul, *seperti bayangan yang terukir di hati*, jubah hitamnya menyatu dengan kegelapan malam. Kulitnya seputih porselen, senyumnya tipis, namun mampu menghangatkan jiwa yang membeku. "Xiao Qing," bisiknya, suaranya *selembut sutra yang terurai*, "Kenapa kau selalu datang ke tempat ini?" "Karena di sinilah aku bisa merasakanmu, Lin Feng," jawabnya, air mata mengalir bagai *embun di kelopak mawar*. "Di antara batu-batu nisan ini, cintamu terasa lebih nyata daripada di dunia yang fana." Setiap malam, mereka bertemu di sana, di tengah kuburan yang sunyi. Berpegangan tangan, berbagi cerita, merajut mimpi yang tak mungkin terwujud. Cinta mereka adalah *lukisan yang dilukis di atas kanvas ilusi*, indah, namun rapuh. Mereka menari di bawah rembulan, langkah mereka ringan, seolah tak menyentuh bumi, *seperti burung-burung yang menari di langit senja*. Namun, keindahan itu selalu berakhir saat fajar menyingsing. Lin Feng akan menghilang, kembali ke dimensi waktu yang tak terjangkau, meninggalkan Xiao Qing sendirian dengan kerinduan yang membakar. Suatu malam, saat rembulan purnama bersinar paling terang, Lin Feng berkata, "Xiao Qing, aku harus memberitahumu sesuatu… *Aku terikat di tempat ini*. Aku tidak bisa pergi, karena aku… aku adalah arwah yang menjaga kuburan ini." Xiao Qing terdiam. Kebenaran itu menyayat hatinya lebih dalam dari pisau. *Cinta yang dia kira nyata, ternyata hanya ilusi yang diciptakan oleh kesepiannya*. Namun, air mata yang mengalir bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata pemahaman. Dia memeluk Lin Feng, erat, seolah ingin menyatukan dua dunia yang berbeda. Pelukan itu *hangat sekaligus dingin, nyata sekaligus tidak nyata*. Dalam pelukan itu, dia merasakan seluruh cinta dan penderitaan Lin Feng, seluruh kesepian dan pengorbanan yang dia lakukan. Saat fajar menyingsing, Lin Feng menghilang, meninggalkan Xiao Qing sendirian di tengah kuburan. Tapi kali ini, dia tidak merasa sedih. Dia tahu, *cinta mereka akan tetap ada, abadi, seperti bintang-bintang yang bersinar di langit malam*. Dia menatap nisan di depannya, nisan yang bertuliskan nama: Lin Feng. Di bawah nama itu, tertulis tanggal lahir dan tanggal kematian: sama. Xiao Qing *terjatuh berlutut*, dan tangisnya memecah keheningan pagi. "...Di sanalah cintamu dimulai, di sanalah juga cinta itu berakhir."
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Halal Dan Aman

Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa Embun pagi merayap di kelopak Piony merah muda di taman, sama dinginnya dengan hat...

Cerita Seru: Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa Cerita Seru: Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa

Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa

Embun pagi merayap di kelopak Piony merah muda di taman, sama dinginnya dengan hati Lan Yin saat ia melangkah di antara bebatuan berlumut. Lima tahun telah berlalu sejak malam itu, malam ketika kebohongan mulai menari-nari di sekelilingnya, malam ketika ia kehilangan segalanya.

Lan Yin, seorang wanita dengan mata yang menyimpan badai, menatap danau yang tenang. Dulu, ia adalah seorang pianis berbakat, jari-jarinya menari di atas tuts piano, menciptakan melodi yang menyentuh jiwa. Namun, semua itu direnggut darinya oleh seorang pria bernama Wei Lian, cinta pertamanya.

Wei Lian, seorang pengusaha muda yang ambisius, telah memanipulasi, berbohong, dan mengkhianati Lan Yin demi kekuasaan. Ia meninggalkannya di altar pernikahan, merusak reputasinya, dan mencuri mimpinya.

"Wei Lian," bisiknya, suaranya serak. "Kau akan membayar semua ini."

Lima tahun kemudian, Lan Yin kembali dengan identitas baru: Li Wei. Ia adalah seorang konsultan keuangan yang sukses, dingin dan kalkulatif. Ia telah menghapus Lan Yin yang rapuh, menggantinya dengan seorang wanita yang haus akan keadilan.

Wei Lian, kini menjadi pemilik perusahaan besar, menjalani kehidupan mewah. Namun, di balik senyumnya yang mempesona, ia menyimpan rahasia yang menghantuinya. Ia mengingat Lan Yin lewat dosa yang terus menggerogotinya. Setiap kali ia melihat Piony merah muda, hatinya mencelos.

Li Wei mendekati Wei Lian, menjalin hubungan bisnis dengannya. Ia mempesona Wei Lian dengan kecerdasannya, menariknya ke dalam jaring-jaring rencananya. Ia melihat bagaimana rasa bersalah menggerogoti pria itu, bagaimana Wei Lian berusaha menebus kesalahannya dengan menyumbang ke yayasan amal atas nama Lan Yin.

Ironi yang pahit.

Semakin dekat Li Wei dengan Wei Lian, semakin ia merasakan amarah yang membakar hatinya. Ia ingin menghancurkan pria itu, membuatnya merasakan sakit yang sama yang ia rasakan. Namun, ia juga menyadari bahwa Wei Lian telah berubah. Ia bukan lagi pria ambisius yang ia kenal dulu. Ia adalah pria yang dihantui oleh penyesalan.

Puncak konflik terjadi saat ulang tahun perusahaan Wei Lian. Li Wei menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan kebenaran di depan semua orang. Ia memutar video yang merekam pengakuan Wei Lian lima tahun lalu, mengungkap semua kebohongannya.

Dunia Wei Lian runtuh dalam sekejap. Reputasinya hancur, bisnisnya terancam bangkrut, dan orang-orang yang dulu memujanya kini mencibirnya.

Wei Lian menatap Li Wei dengan mata berkaca-kaca. "Lan Yin?"

Li Wei tersenyum tipis. "Lan Yin sudah mati. Aku adalah Li Wei, dan aku di sini untuk menagih hutangmu."

Balas dendam Li Wei bukan dengan teriakan atau air mata. Ia menghancurkan Wei Lian dengan ketenangan yang menakutkan. Ia mengambil alih perusahaannya, membawanya ke ambang kehancuran, dan kemudian meninggalkannya untuk menanggung akibatnya.

Di akhir cerita, Li Wei berdiri di balkon, menatap kota yang gemerlap. Ia telah mendapatkan balas dendamnya, tetapi kemenangan itu terasa pahit. Hatinya tetap kosong.

Ia meninggalkan sepucuk surat di meja Wei Lian, surat yang hanya berisi satu kalimat: "Selamat tinggal, Wei Lian. Kau akan selalu menjadi bagian dari luka yang tidak akan pernah sembuh."

Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang menyimpan perpisahan abadi.

Namun, benarkah perpisahan itu benar-benar abadi?

You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Skincare

Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur Kabut pegunungan Wuyi menyelimuti puncak-puncak batu bagai kain kafan. Di antara su...

Dracin Populer: Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur Dracin Populer: Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur

Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur

Kabut pegunungan Wuyi menyelimuti puncak-puncak batu bagai kain kafan. Di antara sunyi yang menyesakkan, siluet seorang pria muncul. Gaun putih polosnya berkibar ditiup angin, kontras dengan kegelapan hutan purba. Wajahnya, yang dulu dikenal sebagai Pangeran Rui, kini dihiasi bekas luka samar, saksi bisu tragedi sepuluh tahun lalu.

Pangeran Rui, yang dulu dianggap gugur dalam pemberontakan berdarah, kembali. Bukan sebagai pahlawan, melainkan bayangan. Tujuan tunggalnya: menemui Putri Lian, tunangannya, kini Permaisuri yang berkuasa.

Lorong-lorong Istana Timur, tempat pertemuan mereka diatur, sunyi mencekam. Hiasan lampion merah yang biasanya berpendar, kini redup, seolah ikut merasakan beban masa lalu.

"Rui... apakah benar itu kau?" bisik Putri Lian, suaranya bergetar bagai daun yang diterpa badai. Gaun phoenix merahnya berkilauan di bawah cahaya redup, menyembunyikan hatinya yang bergejolak.

Pangeran Rui menatapnya, matanya sedalam jurang. "Lian, kau tahu aku selalu menepati janji. Aku kembali, seperti yang kubilang."

"Tapi mengapa sekarang? Setelah sepuluh tahun... semua sudah berubah. Aku sudah... menikah."

"Perubahan adalah keniscayaan, Lian. Tapi ada beberapa hal yang abadi. Seperti kebenaran. Dan balas dendam." Nada suaranya selembut sutra, namun menusuk bagai jarum racun.

Putri Lian terdiam. Wajahnya pucat pasi. "Balas dendam? Terhadap siapa?"

Pangeran Rui mendekat, napasnya menerpa wajah Putri Lian. "Terhadap mereka yang merenggut segalanya dariku. Mereka yang mengkhianatiku. Dan mereka yang membiarkannya terjadi."

"Aku... aku tidak mengerti." Putri Lian mundur selangkah, matanya memancarkan ketakutan.

"Kau mengerti lebih dari yang kau akui, Lian. Bukankah kau yang memberiku minum racun malam itu? Bukankah kau yang membuka gerbang untuk para pemberontak? Kau pikir aku tidak tahu?"

Putri Lian menggeleng keras. Air mata membasahi pipinya. "Tidak! Itu bohong! Aku mencintaimu, Rui! Aku tidak akan pernah menyakitimu!"

Pangeran Rui tersenyum dingin. Senyum yang tidak pernah dikenalnya dulu. "Cinta? Cinta hanyalah ilusi, Lian. Alat untuk mencapai tujuan. Sama seperti kesetiaanku padamu dulu."

Dia mengeluarkan sebuah gulungan dari balik jubahnya. Sebuah dekrit kerajaan, ditandatangani dengan darah – darah ayahnya sendiri. "Kau yang menyusun dekrit ini, Lian. Kau yang menjebakku, agar kau bisa naik tahta. Semua ini adalah rencanamu, bukan?"

Putri Lian, kini tanpa topeng kepura-puraan, tertawa getir. "Bodohnya kau, Rui! Kau pikir aku hanya diam menunggu cintamu? Aku ingin kekuasaan! Dan kau... hanyalah batu loncatan."

Dia menatap Pangeran Rui dengan pandangan penuh kemenangan. "Kau kembali untuk balas dendam? Terlambat, sayangku. Aku selalu memegang kendali."

Pangeran Rui tersenyum lagi. Lebih lebar, lebih menakutkan. "Kau salah, Lian. Aku tahu rencanamu sejak awal. Aku membiarkanmu percaya bahwa kau yang memegang kendali. Karena... peranku jauh lebih besar daripada sekadar korban."

Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada sosok-sosok yang tiba-tiba muncul dari balik pilar-pilar istana. Prajurit setia, yang selama sepuluh tahun bersembunyi, menunggu perintah darinya.

"Kau pikir racun itu bisa membunuhku? Itu hanya ramuan tidur, Lian. Kau pikir dengan membunuhku kau bisa merebut tahta? Aku membiarkanmu merebutnya, agar aku bisa melihat kerajaanku hancur di tanganmu sendiri."

Putri Lian terhuyung mundur, pandangannya kosong. Semua yang dia yakini, semua yang dia rencanakan, hancur berkeping-keping di hadapannya.

Pangeran Rui menatapnya, tanpa belas kasihan. "Sekarang, Lian... giliranmu untuk merasakan apa artinya dikhianati. Untuk merasakan apa artinya kehilangan segalanya."

Kemudian, Pangeran Rui berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Putri Lian yang terisak di tengah reruntuhan kerajaannya, dan sebuah kalimat terucap di antara desiran angin: "Korban yang sesungguhnya adalah dia yang percaya bahwa dia adalah pemenang."

You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Digigit

Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu Aula Emas Istana Azure, tempat dimana setiap ubin memantulkan cahaya lilin dan ambisi. ...

Seru Sih Ini! Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu. Seru Sih Ini! Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu.

Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu

Aula Emas Istana Azure, tempat dimana setiap ubin memantulkan cahaya lilin dan ambisi. Dindingnya yang menjulang, dihiasi lukisan naga dan burung phoenix yang saling bertarung, menjadi saksi bisu dari intrik yang tak terhitung jumlahnya. Aroma dupa cendana dan ambisi yang membara memenuhi udara, menyelimuti setiap gerak-gerik para pejabat dengan bayangan gelap.

Di tengah kemegahan yang mencekam itu, berdiri Pangeran Zhao, putra mahkota yang haus kekuasaan. Tatapannya tajam bagai elang, menyapu barisan pejabat yang membungkuk hormat. Darah menempel di tangannya, darah saudara-saudaranya yang menjadi korban ambisinya. Dia telah membunuh demi tahta, menapaki jalan yang berlumuran noda merah menuju puncak kekuasaan.

Namun, di balik topeng dingin dan kejam itu, tersembunyi hati yang rapuh, hati yang telah menyerah pada pesona Putri Lian.

Lian, putri dari kerajaan taklukkan, dikirim sebagai tanda perdamaian. Kecantikannya bak lukisan dewi, namun tatapannya menyimpan lautan RAHASIA dan KEBENCIAN. Zhao tahu, mencintai Lian sama dengan bermain api. Tapi dia tidak bisa menahan diri.

"Lian," bisik Zhao suatu malam di taman istana yang diterangi cahaya bulan, "Aku akan memberikan seluruh dunia padamu."

Lian hanya tersenyum tipis. "Dunia yang kau rampas dengan darah? Terima kasih, tapi hatiku tidak semurah itu."

Cinta mereka menjadi permainan takhta. Setiap pertemuan adalah peperangan kata-kata, setiap ciuman adalah pertaruhan nyawa. Zhao berjanji akan melindunginya, berjanji akan memberikan kekuatan padanya. Tapi Lian tahu, janji seorang pangeran haus darah hanyalah PEDANG bermata dua.

Bertahun-tahun berlalu, Zhao berhasil merebut tahta. Dia menjadi Kaisar, berkuasa dengan tangan besi. Lian, yang telah dinikahinya, menjadi Permaisuri. Di hadapan rakyat, mereka tampak sebagai pasangan ideal. Namun, di balik tirai sutra istana, KEBOHONGAN merajalela.

Suatu malam, di malam penobatan Zhao, Lian naik ke panggung. Sorot mata nya tenang, sama sekali tidak ada jejak ketakutan. Dengan anggun, dia mengangkat cawan berisi anggur beracun.

"Kaisar," ucapnya dengan suara jernih yang menggema di seluruh aula, "Aku bersulang untuk kejatuhanmu."

Zhao tertegun. Dia tidak percaya, wanita yang dicintainya, wanita yang telah dia korbankan segalanya, berbalik melawannya.

"Kenapa, Lian? Kenapa?" bisiknya, suara penuh kepedihan.

Lian hanya tersenyum dingin. "Kau membunuh demi tahta, dan aku... aku menghancurkanmu dengan cinta."

Dia meneguk anggur itu, lalu menjatuhkan diri dari panggung. Tubuhnya terbaring tak bernyawa di kaki Zhao, MEMATAHKAN hatinya untuk selamanya.

Sejak saat itu, Zhao memerintah dengan tangan besi, tapi jiwanya mati. Kekuatan dan kemewahan tidak lagi berarti apa-apa tanpa Lian. Dia telah membunuh demi tahta, tapi cintanya pada Lian membunuhnya lebih cepat.

Namun, sebelum Lian meninggal, dia telah mengatur segalanya. Racun yang diminumnya bukan racun biasa. Racun itu menggerogoti ingatan Zhao, perlahan tapi pasti, menghapus setiap kenangan tentang Lian.

Saat Zhao menatap cermin, dia melihat wajahnya sendiri, wajah seorang Kaisar yang berkuasa. Tapi dia tidak ingat siapa dirinya. Dia tidak ingat mengapa dia berkuasa. Dia tidak ingat SIAPA Lian.

Dia hanya ingat bahwa dia PERNAH mencintai seseorang, seseorang yang sekarang tinggal dalam kegelapan abadi, kegelapan yang sama yang akan menelannya juga.

Di aula emas yang megah itu, seorang Kaisar berdiri, seorang Kaisar tanpa ingatan, tanpa cinta, tanpa arah.

Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri, dan PEMBALASAN Lian baru saja dimulai…

You Might Also Like: Jualan Skincare Penghasilan Tambahan

Tangisan di Balik Mahkota yang Retak Kabut lavender merayap di atas Bukit Seribu Bunga, menyelimuti Pagoda Giok dalam kesunyian yang abadi...

Ini Baru Drama! Tangisan Di Balik Mahkota Yang Retak Ini Baru Drama! Tangisan Di Balik Mahkota Yang Retak

Tangisan di Balik Mahkota yang Retak

Kabut lavender merayap di atas Bukit Seribu Bunga, menyelimuti Pagoda Giok dalam kesunyian yang abadi. Di sana, di balik dinding berlumut dan ukiran naga yang merindu, Putri Lian Hua menanti. Bukan sang pangeran berkuda emas, bukan pula utusan kerajaan yang gemerlap, melainkan sebuah mimpi.

Setiap senja, saat mentari menumpahkan darahnya ke cakrawala, Lian Hua akan duduk di depan cermin perunggu. Bukan wajahnya yang dipantulkan, melainkan bayangan seorang pria. Pria dengan mata sekelam malam, senyum sehangat mentari musim semi, dan suara selembut bisikan angin di antara bambu. Pria yang hanya hadir dalam lukisan yang tersembunyi di balik mahkotanya.

Lukisan itu... ah, lukisan itu adalah jantungnya yang tercabik. Di atas kanvas sutra, tergambar Pangeran Bai Jun, pahlawan legendaris yang hilang dalam perang Seratus Naga. Kisah menyebutnya telah gugur, namun bagi Lian Hua, Bai Jun hidup, bernapas, dan mencintainya dari balik bingkai usang.

Hari-hari Lian Hua diisi dengan tarian sunyi diiringi petikan kecapi yang pilu. Setiap nada adalah kerinduan, setiap gerakan adalah harapan. Dia membisikkan rahasia hatinya pada lukisan itu, memohon Bai Jun untuk keluar dari sana, untuk menjemputnya dari kesunyian istana.

"Oh, Bai Jun-ku," bisiknya suatu malam, air mata membasahi sutra jubahnya. "Apakah aku hanya bermimpi? Apakah cintaku ini hanya ilusi belaka?"

Malam itu, bulan purnama menyinari Pagoda Giok dengan cahaya PERAK yang aneh. Cermin perunggu bergetar. Lukisan Bai Jun memudar, lalu muncul retakan halus di permukaan kanvas. Udara dipenuhi aroma dupa dan darah.

Kemudian, sebuah suara. Bukan suara Bai Jun yang lembut, melainkan geraman parau yang menusuk tulang.

"Lian Hua..."

Lian Hua mengangkat wajahnya. Bayangan di cermin berubah. Bukan lagi Bai Jun yang tampan dan gagah, melainkan... monster dengan mata menyala dan cakar tajam.

"Aku telah menipumu, Putri," suara itu mencibir. "Bai Jun mati. Aku yang menyamar menjadi dirinya. Aku yang terperangkap dalam lukisan ini. Dan engkaulah, dengan cintamu yang bodoh, yang telah membebaskanku."

Mahkota di kepala Lian Hua terasa BERAT sekali. Retakannya terasa semakin lebar, menjalar hingga ke hatinya. Selama ini, dia mencintai sebuah ilusi, sebuah kebohongan yang dirajut dengan indah.

Air mata mengalir dari matanya, bukan karena takut, melainkan karena patah hati yang tak terperi. Dia telah memberikan hatinya pada sesuatu yang tidak pernah ada.

Monster itu tertawa. "Sekarang, Putri, kau akan menjadi ratuku. Ratu di kerajaan kegelapan yang akan segera kubangun."

Namun, saat monster itu mendekat, Lian Hua meraih pecahan cermin di dekatnya. Di tangannya, pecahan itu berkilau, memantulkan cahaya bulan dengan MENGERIKAN.

Pengungkapan itu menyakitkan. Keindahan itu adalah jebakan. Cinta itu... ilusi yang mematikan.

Bayangan di balik cermin itu masih ada, menantimu di antara celah waktu dan ingatan...

You Might Also Like: 167 Tips Face Wash Tanpa Fragrance