Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa Embun pagi merayap di kelopak Piony merah muda di taman, sama dinginnya dengan hat...

Cerita Seru: Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa Cerita Seru: Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa

Cerita Seru: Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa

Cerita Seru: Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa

Aku Mengingatnya Lewat Luka, Ia Mengingatku Lewat Dosa

Embun pagi merayap di kelopak Piony merah muda di taman, sama dinginnya dengan hati Lan Yin saat ia melangkah di antara bebatuan berlumut. Lima tahun telah berlalu sejak malam itu, malam ketika kebohongan mulai menari-nari di sekelilingnya, malam ketika ia kehilangan segalanya.

Lan Yin, seorang wanita dengan mata yang menyimpan badai, menatap danau yang tenang. Dulu, ia adalah seorang pianis berbakat, jari-jarinya menari di atas tuts piano, menciptakan melodi yang menyentuh jiwa. Namun, semua itu direnggut darinya oleh seorang pria bernama Wei Lian, cinta pertamanya.

Wei Lian, seorang pengusaha muda yang ambisius, telah memanipulasi, berbohong, dan mengkhianati Lan Yin demi kekuasaan. Ia meninggalkannya di altar pernikahan, merusak reputasinya, dan mencuri mimpinya.

"Wei Lian," bisiknya, suaranya serak. "Kau akan membayar semua ini."

Lima tahun kemudian, Lan Yin kembali dengan identitas baru: Li Wei. Ia adalah seorang konsultan keuangan yang sukses, dingin dan kalkulatif. Ia telah menghapus Lan Yin yang rapuh, menggantinya dengan seorang wanita yang haus akan keadilan.

Wei Lian, kini menjadi pemilik perusahaan besar, menjalani kehidupan mewah. Namun, di balik senyumnya yang mempesona, ia menyimpan rahasia yang menghantuinya. Ia mengingat Lan Yin lewat dosa yang terus menggerogotinya. Setiap kali ia melihat Piony merah muda, hatinya mencelos.

Li Wei mendekati Wei Lian, menjalin hubungan bisnis dengannya. Ia mempesona Wei Lian dengan kecerdasannya, menariknya ke dalam jaring-jaring rencananya. Ia melihat bagaimana rasa bersalah menggerogoti pria itu, bagaimana Wei Lian berusaha menebus kesalahannya dengan menyumbang ke yayasan amal atas nama Lan Yin.

Ironi yang pahit.

Semakin dekat Li Wei dengan Wei Lian, semakin ia merasakan amarah yang membakar hatinya. Ia ingin menghancurkan pria itu, membuatnya merasakan sakit yang sama yang ia rasakan. Namun, ia juga menyadari bahwa Wei Lian telah berubah. Ia bukan lagi pria ambisius yang ia kenal dulu. Ia adalah pria yang dihantui oleh penyesalan.

Puncak konflik terjadi saat ulang tahun perusahaan Wei Lian. Li Wei menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan kebenaran di depan semua orang. Ia memutar video yang merekam pengakuan Wei Lian lima tahun lalu, mengungkap semua kebohongannya.

Dunia Wei Lian runtuh dalam sekejap. Reputasinya hancur, bisnisnya terancam bangkrut, dan orang-orang yang dulu memujanya kini mencibirnya.

Wei Lian menatap Li Wei dengan mata berkaca-kaca. "Lan Yin?"

Li Wei tersenyum tipis. "Lan Yin sudah mati. Aku adalah Li Wei, dan aku di sini untuk menagih hutangmu."

Balas dendam Li Wei bukan dengan teriakan atau air mata. Ia menghancurkan Wei Lian dengan ketenangan yang menakutkan. Ia mengambil alih perusahaannya, membawanya ke ambang kehancuran, dan kemudian meninggalkannya untuk menanggung akibatnya.

Di akhir cerita, Li Wei berdiri di balkon, menatap kota yang gemerlap. Ia telah mendapatkan balas dendamnya, tetapi kemenangan itu terasa pahit. Hatinya tetap kosong.

Ia meninggalkan sepucuk surat di meja Wei Lian, surat yang hanya berisi satu kalimat: "Selamat tinggal, Wei Lian. Kau akan selalu menjadi bagian dari luka yang tidak akan pernah sembuh."

Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang menyimpan perpisahan abadi.

Namun, benarkah perpisahan itu benar-benar abadi?

You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Skincare

0 Comments: