Tangisan di Balik Mahkota yang Retak
Kabut lavender merayap di atas Bukit Seribu Bunga, menyelimuti Pagoda Giok dalam kesunyian yang abadi. Di sana, di balik dinding berlumut dan ukiran naga yang merindu, Putri Lian Hua menanti. Bukan sang pangeran berkuda emas, bukan pula utusan kerajaan yang gemerlap, melainkan sebuah mimpi.
Setiap senja, saat mentari menumpahkan darahnya ke cakrawala, Lian Hua akan duduk di depan cermin perunggu. Bukan wajahnya yang dipantulkan, melainkan bayangan seorang pria. Pria dengan mata sekelam malam, senyum sehangat mentari musim semi, dan suara selembut bisikan angin di antara bambu. Pria yang hanya hadir dalam lukisan yang tersembunyi di balik mahkotanya.
Lukisan itu... ah, lukisan itu adalah jantungnya yang tercabik. Di atas kanvas sutra, tergambar Pangeran Bai Jun, pahlawan legendaris yang hilang dalam perang Seratus Naga. Kisah menyebutnya telah gugur, namun bagi Lian Hua, Bai Jun hidup, bernapas, dan mencintainya dari balik bingkai usang.
Hari-hari Lian Hua diisi dengan tarian sunyi diiringi petikan kecapi yang pilu. Setiap nada adalah kerinduan, setiap gerakan adalah harapan. Dia membisikkan rahasia hatinya pada lukisan itu, memohon Bai Jun untuk keluar dari sana, untuk menjemputnya dari kesunyian istana.
"Oh, Bai Jun-ku," bisiknya suatu malam, air mata membasahi sutra jubahnya. "Apakah aku hanya bermimpi? Apakah cintaku ini hanya ilusi belaka?"
Malam itu, bulan purnama menyinari Pagoda Giok dengan cahaya PERAK yang aneh. Cermin perunggu bergetar. Lukisan Bai Jun memudar, lalu muncul retakan halus di permukaan kanvas. Udara dipenuhi aroma dupa dan darah.
Kemudian, sebuah suara. Bukan suara Bai Jun yang lembut, melainkan geraman parau yang menusuk tulang.
"Lian Hua..."
Lian Hua mengangkat wajahnya. Bayangan di cermin berubah. Bukan lagi Bai Jun yang tampan dan gagah, melainkan... monster dengan mata menyala dan cakar tajam.
"Aku telah menipumu, Putri," suara itu mencibir. "Bai Jun mati. Aku yang menyamar menjadi dirinya. Aku yang terperangkap dalam lukisan ini. Dan engkaulah, dengan cintamu yang bodoh, yang telah membebaskanku."
Mahkota di kepala Lian Hua terasa BERAT sekali. Retakannya terasa semakin lebar, menjalar hingga ke hatinya. Selama ini, dia mencintai sebuah ilusi, sebuah kebohongan yang dirajut dengan indah.
Air mata mengalir dari matanya, bukan karena takut, melainkan karena patah hati yang tak terperi. Dia telah memberikan hatinya pada sesuatu yang tidak pernah ada.
Monster itu tertawa. "Sekarang, Putri, kau akan menjadi ratuku. Ratu di kerajaan kegelapan yang akan segera kubangun."
Namun, saat monster itu mendekat, Lian Hua meraih pecahan cermin di dekatnya. Di tangannya, pecahan itu berkilau, memantulkan cahaya bulan dengan MENGERIKAN.
Pengungkapan itu menyakitkan. Keindahan itu adalah jebakan. Cinta itu... ilusi yang mematikan.
Bayangan di balik cermin itu masih ada, menantimu di antara celah waktu dan ingatan...
You Might Also Like: 167 Tips Face Wash Tanpa Fragrance
0 Comments: