Baiklah, inilah kisah Dracin emosional berjudul 'Senyum yang Menghilang di Balik Hujan' dengan sentuhan puitis dan konflik yang menekan: **Senyum yang Menghilang di Balik Hujan** Hujan selalu mengingatkannya pada senyum Ling Yue. Senyum yang dulu menghangatkan hatinya, sekarang hanyalah bayangan dingin di balik tirai kenangan. Xiao Zhen, nama pemuda itu, hidup dalam kebohongan yang terjalin indah, sebuah kebohongan yang dirajut oleh Ling Yue sendiri. Ling Yue, seorang pelukis yang terkenal dengan kanvas-kanvasnya yang penuh warna, menyimpan rahasia kelam di balik paletnya. Rahasia itu adalah Xiao Zhen. Xiao Zhen yang lugu, yang mencintainya tanpa syarat, adalah buah dari malam yang seharusnya tidak pernah terjadi. Malam ketika kesucian Ling Yue direnggut, dan Xiao Zhen lahir dari rasa malu dan keputusasaan. Xiao Zhen tumbuh besar dalam kebahagiaan semu, di bawah asuhan Ling Yue yang berwajah dua. Di depan Xiao Zhen, ia adalah ibu yang penuh kasih. Di belakangnya, ia adalah wanita yang diliputi rasa bersalah dan takut, takut kebenaran akan terungkap dan menghancurkan dunia yang telah dibangunnya dengan susah payah. "Xiao Zhen, senyummu adalah matahariku," ucap Ling Yue suatu senja, di bawah rintik hujan. Kata-kata itu terngiang di telinga Xiao Zhen bertahun-tahun kemudian, ketika ia mulai mencari kebenaran. Pencariannya dimulai dari sepucuk surat tua yang ditemukan secara tidak sengaja di loteng rumah. Surat dari seorang pria bernama Li Wei, yang menyebut Ling Yue dengan panggilan 'kekasih'. Surat yang penuh dengan penyesalan dan kerinduan. Xiao Zhen *MULA-MULA* merasa bingung. Kemudian, perlahan, kepingan-kepingan puzzle mulai tersusun. Ia mulai menyelidiki masa lalu Ling Yue, menggali kubangan-kubangan dosa yang disembunyikan rapat. Semakin dalam ia menyelam, semakin ia menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah *KEBOHONGAN BESAR*. Setiap kebenaran yang terungkap terasa seperti tusukan belati di jantungnya. Ibunya, wanita yang ia cintai dan hormati, ternyata telah membohonginya selama ini. Li Wei, pria yang namanya selalu dihindari oleh Ling Yue, ternyata adalah ayah kandungnya. Dan yang TERBURUK dari semuanya, Ling Yue menyembunyikan kebenaran tentang pemerkosaan itu, yang menjadi akar dari segala kebohongan. "Kenapa, Ibu? KENAPA?!" Xiao Zhen bertanya, dengan air mata yang membasahi pipinya, ketika ia akhirnya menghadapi Ling Yue. Ling Yue hanya bisa menangis. Ia mengakui semuanya, dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia memohon ampun, mengatakan bahwa ia melakukan semua itu demi melindungi Xiao Zhen. Namun, Xiao Zhen sudah tidak bisa memaafkan. Luka yang menganga terlalu dalam. Rasa sakitnya terlalu membakar. ***Balas dendamnya tidak berupa teriakan amarah atau tindakan kekerasan.*** Balas dendamnya adalah senyum yang sama indahnya dengan senyum Ling Yue. Senyum yang ia berikan kepada Ling Yue ketika ia mengucapkan kata-kata terakhirnya: "Aku mengerti. Sekarang, aku akan pergi. Aku akan mencari ayahku, dan aku akan *melupakanmu*." Xiao Zhen pergi, meninggalkan Ling Yue yang hancur di bawah rintik hujan. Hujan yang kini terasa seperti air mata penyesalan abadi. Beberapa tahun kemudian, Xiao Zhen menjadi pelukis yang terkenal, sama seperti Ling Yue. Kanvas-kanvasnya penuh dengan warna, tetapi ada satu warna yang selalu hilang: warna senyum ibunya. Ia tidak pernah menemui Li Wei, tidak pernah benar-benar melupakan Ling Yue. Ia hanya mengubah cara ia mengingat. Di sebuah pameran tunggal Xiao Zhen, terpampang sebuah lukisan berjudul "Senyum yang Menghilang di Balik Hujan". Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang cantik, tetapi matanya dipenuhi dengan kesedihan yang tak terhingga. Di bawah lukisan itu, tertera sebuah kutipan: "Apakah hati yang terluka bisa benar-benar sembuh, atau hanya menjadi lebih terampil dalam menyembunyikan lukanya?"
You Might Also Like: Jual Skincare Anti Jerawat Dan Anti
0 Comments: