Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur Kabut pegunungan Wuyi menyelimuti puncak-puncak batu bagai kain kafan. Di antara su...

Dracin Populer: Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur Dracin Populer: Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur

Dracin Populer: Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur

Dracin Populer: Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur

Aku Terbiasa Pada Jadwal, Tapi Rinduku Tak Bisa Diatur

Kabut pegunungan Wuyi menyelimuti puncak-puncak batu bagai kain kafan. Di antara sunyi yang menyesakkan, siluet seorang pria muncul. Gaun putih polosnya berkibar ditiup angin, kontras dengan kegelapan hutan purba. Wajahnya, yang dulu dikenal sebagai Pangeran Rui, kini dihiasi bekas luka samar, saksi bisu tragedi sepuluh tahun lalu.

Pangeran Rui, yang dulu dianggap gugur dalam pemberontakan berdarah, kembali. Bukan sebagai pahlawan, melainkan bayangan. Tujuan tunggalnya: menemui Putri Lian, tunangannya, kini Permaisuri yang berkuasa.

Lorong-lorong Istana Timur, tempat pertemuan mereka diatur, sunyi mencekam. Hiasan lampion merah yang biasanya berpendar, kini redup, seolah ikut merasakan beban masa lalu.

"Rui... apakah benar itu kau?" bisik Putri Lian, suaranya bergetar bagai daun yang diterpa badai. Gaun phoenix merahnya berkilauan di bawah cahaya redup, menyembunyikan hatinya yang bergejolak.

Pangeran Rui menatapnya, matanya sedalam jurang. "Lian, kau tahu aku selalu menepati janji. Aku kembali, seperti yang kubilang."

"Tapi mengapa sekarang? Setelah sepuluh tahun... semua sudah berubah. Aku sudah... menikah."

"Perubahan adalah keniscayaan, Lian. Tapi ada beberapa hal yang abadi. Seperti kebenaran. Dan balas dendam." Nada suaranya selembut sutra, namun menusuk bagai jarum racun.

Putri Lian terdiam. Wajahnya pucat pasi. "Balas dendam? Terhadap siapa?"

Pangeran Rui mendekat, napasnya menerpa wajah Putri Lian. "Terhadap mereka yang merenggut segalanya dariku. Mereka yang mengkhianatiku. Dan mereka yang membiarkannya terjadi."

"Aku... aku tidak mengerti." Putri Lian mundur selangkah, matanya memancarkan ketakutan.

"Kau mengerti lebih dari yang kau akui, Lian. Bukankah kau yang memberiku minum racun malam itu? Bukankah kau yang membuka gerbang untuk para pemberontak? Kau pikir aku tidak tahu?"

Putri Lian menggeleng keras. Air mata membasahi pipinya. "Tidak! Itu bohong! Aku mencintaimu, Rui! Aku tidak akan pernah menyakitimu!"

Pangeran Rui tersenyum dingin. Senyum yang tidak pernah dikenalnya dulu. "Cinta? Cinta hanyalah ilusi, Lian. Alat untuk mencapai tujuan. Sama seperti kesetiaanku padamu dulu."

Dia mengeluarkan sebuah gulungan dari balik jubahnya. Sebuah dekrit kerajaan, ditandatangani dengan darah – darah ayahnya sendiri. "Kau yang menyusun dekrit ini, Lian. Kau yang menjebakku, agar kau bisa naik tahta. Semua ini adalah rencanamu, bukan?"

Putri Lian, kini tanpa topeng kepura-puraan, tertawa getir. "Bodohnya kau, Rui! Kau pikir aku hanya diam menunggu cintamu? Aku ingin kekuasaan! Dan kau... hanyalah batu loncatan."

Dia menatap Pangeran Rui dengan pandangan penuh kemenangan. "Kau kembali untuk balas dendam? Terlambat, sayangku. Aku selalu memegang kendali."

Pangeran Rui tersenyum lagi. Lebih lebar, lebih menakutkan. "Kau salah, Lian. Aku tahu rencanamu sejak awal. Aku membiarkanmu percaya bahwa kau yang memegang kendali. Karena... peranku jauh lebih besar daripada sekadar korban."

Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada sosok-sosok yang tiba-tiba muncul dari balik pilar-pilar istana. Prajurit setia, yang selama sepuluh tahun bersembunyi, menunggu perintah darinya.

"Kau pikir racun itu bisa membunuhku? Itu hanya ramuan tidur, Lian. Kau pikir dengan membunuhku kau bisa merebut tahta? Aku membiarkanmu merebutnya, agar aku bisa melihat kerajaanku hancur di tanganmu sendiri."

Putri Lian terhuyung mundur, pandangannya kosong. Semua yang dia yakini, semua yang dia rencanakan, hancur berkeping-keping di hadapannya.

Pangeran Rui menatapnya, tanpa belas kasihan. "Sekarang, Lian... giliranmu untuk merasakan apa artinya dikhianati. Untuk merasakan apa artinya kehilangan segalanya."

Kemudian, Pangeran Rui berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Putri Lian yang terisak di tengah reruntuhan kerajaannya, dan sebuah kalimat terucap di antara desiran angin: "Korban yang sesungguhnya adalah dia yang percaya bahwa dia adalah pemenang."

You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Digigit

0 Comments: