**Tahta Itu Berdarah Oleh Keheningan, Karena Tak Ada Lagi Yang Berani Menyebut Nama Kita** Dinding istana bisu, menjulang tinggi bagai saksi bisu tragedi yang telah lama membatu. Di singgasana yang dingin, Kaisar Zhao Wei termenung. Bukan emas permata yang menghiasi benaknya, melainkan wajah Lin Yue, cinta *terlarang* yang kini hanya tinggal kenangan pahit. Dahulu, di taman bunga plum yang bermekaran, mereka bersumpah. Janji untuk saling memiliki, janji untuk menaklukkan dunia bersama. Zhao Wei yang ambisius, dan Lin Yue yang luhur, bagaikan dua sisi koin yang tak terpisahkan. Namun, ambisi memanggang jiwa, kekuasaan meracuni hati. Demi tahta, Zhao Wei menikahi putri dari kerajaan tetangga, mengkhianati janji suci mereka. Kini, di malam sunyi yang mencekam, Zhao Wei merindukan Lin Yue lebih dari sekadar udara yang dihirupnya. Bayang-bayang Lin Yue menari-nari di balik tirai sutra, setiap langkahnya bagaikan pisau yang mengiris jantungnya. *"Yue'er…"* bisiknya parau, suaranya menghilang ditelan keheningan istana. Dulu, ketika bibir mereka bersentuhan di bawah rembulan, Lin Yue berjanji akan selalu setia. Namun, cinta yang dikhianati berubah menjadi bara api yang membakar. Lin Yue, dengan hatinya yang hancur, memilih jalan sunyi—menjadi biksuni di kuil terpencil, mengabdikan diri pada Sang Pencipta, menjauhi hiruk pikuk dunia yang telah merampas kebahagiaannya. Momen yang paling menghantui Zhao Wei adalah saat terakhir kali ia melihat Lin Yue. Di tengah kerumunan orang yang bersorak menyambut pernikahannya, ia melihat Lin Yue berdiri di kejauhan, matanya memancarkan kesedihan yang tak terucapkan. Tidak ada amarah, tidak ada makian, hanya kekosongan. Kekosongan yang jauh lebih mengerikan daripada pedang yang mengancam nyawanya. Bertahun-tahun berlalu. Zhao Wei memerintah dengan tangan besi, memperluas wilayah, dan menumpuk kekayaan. Namun, setiap malam, ia terbangun dalam keringat dingin, dihantui oleh tatapan mata Lin Yue. Ia telah mendapatkan *segalanya*, tapi kehilangan *satu-satunya*. Kemudian, sebuah surat tiba dari kuil tempat Lin Yue mengasingkan diri. Lin Yue sakit parah dan ingin bertemu dengannya. Zhao Wei bergegas ke kuil, hatinya berdebar kencang antara harapan dan ketakutan. Di kamarnya yang sederhana, Lin Yue terbaring lemah. Wajahnya pucat, namun matanya masih memancarkan ketenangan yang sama. "Zhao Wei…" bisiknya lirih. Zhao Wei berlutut di sisi ranjang, menggenggam tangannya yang kurus. "Yue'er, maafkan aku… Aku menyesal…" Lin Yue tersenyum tipis. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Takdir telah menuliskan cerita kita dengan cara yang berbeda." Ia menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Zhao Wei. "Simpan ini. Ingatlah aku…" Lin Yue menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan Zhao Wei dalam kesunyian yang abadi. Zhao Wei membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat jepit rambut bunga plum—jepit rambut yang dulu ia berikan kepada Lin Yue sebagai tanda cinta mereka. Di bawah jepit rambut, terdapat selembar kertas bertuliskan satu kalimat: *"Racun yang merenggut nyawaku… adalah hadiah dari istri kaisar."* Keadilan memang tidur panjang, namun takdir memiliki cara yang misterius untuk menuntut balas. *Benih dendam telah ditanam, dan musim semi akan segera tiba.*
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Yang Cocok
0 Comments: