Baiklah, inilah kisah puitis bergaya Dracin klasik berjudul 'Pelukan yang Terjadi di Tengah Kuburan', dengan fokus pada bahasa yang indah, metaforis, dan sentuhan misteri: *** **Pelukan yang Terjadi di Tengah Kuburan** Kabut senja merangkul nisan-nisan yang berjajar, seperti tangan-tangan hantu yang merindukan kehangatan. Di sanalah dia berdiri, Xiao Qing, gaun putihnya berkibar ditiup angin *sepoi-sepoi kematian*. Wajahnya pucat, rembulan sabit memantulkan cahaya ke mata zamrudnya, yang memendam lautan kesedihan yang tak terucapkan. Dia menunggu, bukan kematian, bukan pula kedamaian, melainkan kehadiran yang selalu hadir dalam mimpinya, Lin Feng. Sosoknya muncul, *seperti bayangan yang terukir di hati*, jubah hitamnya menyatu dengan kegelapan malam. Kulitnya seputih porselen, senyumnya tipis, namun mampu menghangatkan jiwa yang membeku. "Xiao Qing," bisiknya, suaranya *selembut sutra yang terurai*, "Kenapa kau selalu datang ke tempat ini?" "Karena di sinilah aku bisa merasakanmu, Lin Feng," jawabnya, air mata mengalir bagai *embun di kelopak mawar*. "Di antara batu-batu nisan ini, cintamu terasa lebih nyata daripada di dunia yang fana." Setiap malam, mereka bertemu di sana, di tengah kuburan yang sunyi. Berpegangan tangan, berbagi cerita, merajut mimpi yang tak mungkin terwujud. Cinta mereka adalah *lukisan yang dilukis di atas kanvas ilusi*, indah, namun rapuh. Mereka menari di bawah rembulan, langkah mereka ringan, seolah tak menyentuh bumi, *seperti burung-burung yang menari di langit senja*. Namun, keindahan itu selalu berakhir saat fajar menyingsing. Lin Feng akan menghilang, kembali ke dimensi waktu yang tak terjangkau, meninggalkan Xiao Qing sendirian dengan kerinduan yang membakar. Suatu malam, saat rembulan purnama bersinar paling terang, Lin Feng berkata, "Xiao Qing, aku harus memberitahumu sesuatu… *Aku terikat di tempat ini*. Aku tidak bisa pergi, karena aku… aku adalah arwah yang menjaga kuburan ini." Xiao Qing terdiam. Kebenaran itu menyayat hatinya lebih dalam dari pisau. *Cinta yang dia kira nyata, ternyata hanya ilusi yang diciptakan oleh kesepiannya*. Namun, air mata yang mengalir bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata pemahaman. Dia memeluk Lin Feng, erat, seolah ingin menyatukan dua dunia yang berbeda. Pelukan itu *hangat sekaligus dingin, nyata sekaligus tidak nyata*. Dalam pelukan itu, dia merasakan seluruh cinta dan penderitaan Lin Feng, seluruh kesepian dan pengorbanan yang dia lakukan. Saat fajar menyingsing, Lin Feng menghilang, meninggalkan Xiao Qing sendirian di tengah kuburan. Tapi kali ini, dia tidak merasa sedih. Dia tahu, *cinta mereka akan tetap ada, abadi, seperti bintang-bintang yang bersinar di langit malam*. Dia menatap nisan di depannya, nisan yang bertuliskan nama: Lin Feng. Di bawah nama itu, tertulis tanggal lahir dan tanggal kematian: sama. Xiao Qing *terjatuh berlutut*, dan tangisnya memecah keheningan pagi. "...Di sanalah cintamu dimulai, di sanalah juga cinta itu berakhir."
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Halal Dan Aman
0 Comments: