Oke, siap! Ini dia kisah "Janji yang Dibalut Darah dan Air Mata": **Janji yang Dibalut Darah dan Air Mata** Malam itu, salju turun...

Drama Abiss! Janji Yang Dibalut Darah Dan Air Mata Drama Abiss! Janji Yang Dibalut Darah Dan Air Mata

Drama Abiss! Janji Yang Dibalut Darah Dan Air Mata

Drama Abiss! Janji Yang Dibalut Darah Dan Air Mata

Oke, siap! Ini dia kisah "Janji yang Dibalut Darah dan Air Mata": **Janji yang Dibalut Darah dan Air Mata** Malam itu, salju turun seperti kapas-kapas kematian, menutupi seluruh Lembah Naga dengan kain putih dingin. Di tengah lembah, berdiri tegak Paviliun Bulan Pudar, tempat Lin Mei, pewaris terakhir Klan Baihua, menanti. Wajahnya pucat, diterangi cahaya lilin yang berkedip, seolah menari bersama bayangan masa lalu. Udara dipenuhi aroma dupa cendana, bercampur bau anyir darah yang samar. *Darah* yang masih segar di salju di pelataran, saksi bisu pertarungan tadi sore. Lin Mei menatap pedang di tangannya, *Pedang Bulan Sabit*, pusaka klan yang kini ternoda. Pedang itu, yang seharusnya menjadi simbol kehormatan, terasa berat, dipenuhi kenangan – kenangan akan janji, pengkhianatan, dan cinta yang terlarang. Di seberang ruangan, terbaring Han Li, putra mahkota Klan Serigala Besi. Wajahnya yang tampan kini dipenuhi memar dan goresan, bibirnya berdarah. Mata elangnya yang tajam, yang dulu selalu menatap Lin Mei dengan penuh hasrat, kini memancarkan kebencian dan kekalahan. "Lin Mei..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Kau... menghancurkan segalanya." Lin Mei tidak menjawab. Air mata menetes di pipinya, membasahi gaun sutra putihnya. *Air mata* yang sudah lama ia tahan, air mata untuk cinta yang tidak mungkin, air mata untuk keluarga yang telah dibantai, air mata untuk janji yang telah dilanggar. "Kau kira aku tidak tahu?" Lin Mei akhirnya bersuara, nadanya dingin seperti es. "Kau kira aku tidak tahu bahwa Klan Serigala Besi yang membunuh ayahku? Membantai seluruh klanku? Mencuri Kitab Baihua?" Han Li terbatuk, darah memuncrat dari mulutnya. "Itu... perintah... ayahku..." "Perintah?" Lin Mei tertawa getir. "Dan kau menuruti perintah itu? Kau, yang berjanji akan melindungiku? Kau, yang bersumpah setia di atas altar leluhurku?!" **JANJI. DI ATAS ABU.** Lima tahun lalu, di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran, mereka berjanji. Janji untuk mencintai selamanya, janji untuk mengakhiri perseteruan antara klan mereka. Janji yang kini hanyalah debu, beterbangan dihembus angin malam. Lin Mei mendekat, berlutut di samping Han Li. Pedang Bulan Sabit ia angkat tinggi-tinggi. Han Li memejamkan mata, pasrah pada takdir. "Aku mencintaimu, Han Li," bisik Lin Mei. "Tapi cintaku... tidak cukup untuk memaafkan pengkhianatanmu." Pedang itu menebas. Bukan leher Han Li yang menjadi sasaran, melainkan tali yang mengikatnya. Han Li membuka mata, terkejut. "Pergilah," kata Lin Mei, suaranya datar. "Kembali ke klanmu. Katakan pada ayahmu... bahwa hutang darah Klan Baihua akan dibayar lunas. Dan aku... akan datang menagihnya." Han Li merangkak pergi, meninggalkan jejak darah di salju. Lin Mei berdiri di sana, sendirian di tengah malam yang sunyi. Di tangannya, tergenggam erat Kitab Baihua, yang dulunya dicuri dari klannya, kini dikembalikan oleh Han Li sebelum pertarungan dimulai. Sebuah pengakuan tersembunyi, sebuah penebusan yang terlambat. Bertahun-tahun kemudian, ketika Klan Serigala Besi mencapai puncak kejayaannya, seorang wanita berpakaian putih muncul di gerbang benteng mereka. Wajahnya tertutup cadar, namun mata dinginnya menyimpan janji kematian. Wanita itu, dengan Pedang Bulan Sabit di tangannya, memasuki benteng seorang diri. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam benteng malam itu. Yang jelas, keesokan harinya, benteng itu sunyi senyap. Tidak ada yang selamat, kecuali seorang anak kecil yang ditemukan menangis di dekat jasad Han Li, yang memeluk Kitab Baihua di dadanya. Lin Mei menghilang tanpa jejak. Tapi di malam-malam yang sunyi, orang-orang di Lembah Naga masih mendengar bisikan angin, membawa aroma dupa cendana dan nyanyian pedang yang dingin. Sebuah balasan yang *TENANG*... namun *MEMATIKAN*. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu. Dan di mana pun Anda berada, Anda mungkin merasakan hembusan napas dingin di leher Anda, seolah-olah Lin Mei sedang berbisik di telinga Anda: *Hutang darah harus dibayar dengan darah... dan jiwa.*
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Dipatuk Rusa

0 Comments: