**Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang** Di antara kabut lavender Pegunungan Bulan, di mana waktu menari dalam mimpi-mim...

Cerpen: Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang Cerpen: Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang

Cerpen: Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang

Cerpen: Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang

**Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang** Di antara kabut lavender Pegunungan Bulan, di mana waktu menari dalam mimpi-mimpi yang terfragmentasi, aku melihatmu. Siluetmu berbalut sutra malam, rambutmu sungai perak yang mengalir tenang. Kau datang seperti hembusan angin musim semi, membawa aroma *mei hua* yang mekar di hatiku yang membeku. Senyummu, sebuah lukisan cat air yang dilukis oleh dewa, menghapus garis-garis kesedihan yang terukir di wajahku. Matamu, danau zamrud yang menyimpan seribu rahasia, mencerminkan *bayanganku* – ataukah pantulan jiwa yang telah lama hilang? Kita berdansa di bawah pohon sakura yang menggugurkan kelopak seperti salju. Setiap sentuhan adalah janji bisu, setiap tatapan adalah simfoni yang tak terucapkan. Di duniamu, dunia yang terasa nyata namun *terlalu* indah, aku menemukan kedamaian yang selama ini kucari. Namun, di balik keindahan itu, bayangan mulai merayap. Bisikan-bisikan gaib bergema di antara pepohonan bambu, memperingatkan tentang **BADAI** yang akan datang. Mimpiku mulai dipenuhi pecahan kaca, lukisan itu memudar, sutra itu berubah menjadi abu. Kau semakin menjauh, siluetmu semakin kabur. Tanganku terulur sia-sia, berusaha meraih ilusi yang kian menghilang. Kau berbalik, dan untuk pertama kalinya, aku melihat *perang* di matamu. Sebuah perang tanpa akhir, perang yang telah kau bawa bersamamu, dan kini kau tinggalkan di hatiku. Di saat terakhir, sebelum kau benar-benar lenyap dalam kabut, sebuah kebenaran terungkap. Kau bukan manusia. Kau adalah *hantu* masa lalu, reinkarnasi dari cinta yang hilang, terperangkap dalam lingkaran waktu yang tak berujung. Tugasmu adalah memberikan harapan, hanya untuk kemudian merenggutnya kembali. Momen itu... adalah **MOMEN** ketika keindahan patah, dan luka yang selama ini tersembunyi, menganga lebar. Air mata mengalir seperti air bah, membasahi tanah yang kini terasa gersang dan kosong. "Aku... hanyalah *echo* dari dirimu yang dulu..." bisikanmu bergema di relung jiwaku yang hancur. Kini, yang tersisa hanyalah **PEPERANGAN**. Peperangan melawan kenangan, peperangan melawan kesedihan, peperangan melawan diriku sendiri. *Apakah kau akan kembali, ataukah aku akan selamanya terperangkap dalam mimpi yang ditinggalkan ini?*
You Might Also Like: Skincare Lokal Dengan Bahan Premium

0 Comments: