**Aku Adalah *Error* Yang Membuatnya Menangis** Hujan di malam Danau Barat menari di atas payung sutraku. Sama seperti dulu. Dulu, payung in...

Kisah Seru: Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis Kisah Seru: Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis

Kisah Seru: Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis

Kisah Seru: Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis

**Aku Adalah *Error* Yang Membuatnya Menangis** Hujan di malam Danau Barat menari di atas payung sutraku. Sama seperti dulu. Dulu, payung ini menaungi kita berdua, tawa kita bergemuruh di antara rintik yang jatuh, menggema di tengah keheningan malam. Dulu, aku adalah dunianya. Sekarang? Aku hanyalah *error* dalam naskah hidupnya yang sempurna. Dia berdiri di kejauhan, siluetnya buram diterpa kabut. Wajahnya, yang dulu selalu kurindukan, kini tampak asing dan dingin. Gaun sutra merahnya bagaikan darah yang tumpah di atas salju. Dulu, gaun itu ia kenakan hanya untukku, di malam ulang tahunku, di malam di mana ia berjanji akan selalu bersamaku. Janji. Sebuah kata yang kini terasa seperti pecahan beling di lidahku. Aku mendekat perlahan, setiap langkahku meninggalkan jejak basah di jalanan batu. Jantungku berdebar kencang, bukan karena cinta, melainkan karena pahitnya penyesalan yang menggerogoti tulang. "Xia Lian," bisikku, suaraku nyaris tenggelam dalam deru angin. Dia menoleh, matanya berkilat marah bercampur kesedihan. Air mata mulai mengalir di pipinya, menghancurkan riasan wajahnya yang sempurna. "Jiang Wei," balasnya, suaranya bergetar. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" Aku terdiam. Pertanyaan itu bagaikan cambuk yang mencambuk diriku sendiri. Kenapa? Karena aku bodoh. Karena aku dibutakan oleh ambisi. Karena aku memilih kekuasaan daripada cintanya. "Aku..." Aku tercekik, kata-kata itu mati di tenggorokanku. "Kau menghancurkanku!" teriaknya, air matanya semakin deras. "Kau menghancurkan semua yang kita miliki! Kau menikahi wanita itu, wanita yang merebut posisiku, wanita yang... **WANITA YANG MEMBUNUH HATIKU!**" Aku tahu. Aku tahu semua itu. Aku melihatnya, aku merasakannya, tapi aku memilih untuk berpaling. Aku memilih untuk menjadi pengecut. Ia terisak, tubuhnya bergetar hebat. "Aku membencimu, Jiang Wei! Aku membencimu!" Kata-kata itu menghantamku seperti badai. Aku pantas mendapatkannya. Setiap tetes air mata yang ia tumpahkan adalah hukuman yang pantas kuterima. Lalu, sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya yang bergetar. Senyuman yang lebih mengerikan daripada kemarahan. "Tapi… Kau tahu, Jiang Wei? Ibuku benar. Karma itu ada." Aku merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungku. Instingku berteriak untuk lari, tapi kakiku terpaku di tempat. Di kejauhan, aku melihat kilatan lampu mobil mendekat. Bukan mobil biasa. Mobil pengawal kerajaan. Dia tersenyum lebih lebar, senyuman kemenangan yang dingin dan mematikan. "Oh, jangan khawatir. Aku tidak akan membunuhmu. Tapi… Kerajaanmu… Ayahmu… Mereka akan merasakan sakit yang sama yang kurasakan." Mobil-mobil itu berhenti di belakangnya. Pintu terbuka, dan para pengawal bergegas menghampirinya. Dia berbalik, berjalan menjauh meninggalkanku sendirian di tengah hujan. "Selamat menikmati *error* yang kau ciptakan sendiri, Jiang Wei," ucapnya tanpa menoleh, sebelum melangkah masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju, meninggalkan jejak air di jalanan basah. Aku berdiri terpaku, merasakan getaran dingin yang merayap di sekujur tubuhku. Ini bukan akhir dari cinta kita, tapi awal dari era baru, dan di antara cintaku dan dendamnya, aku bertanya-tanya: Siapa sebenarnya yang lebih **hancur** di antara kita?
You Might Also Like: Jualan Skincare Peluang Usaha Ibu Rumah

0 Comments: