Oke, siap! Ini dia kisah absurd bergaya Dracin dengan sentuhan kiamat: **Cinta yang Kuterima Sebagai Kutukan** Sinyal Wi-Fi berkedip-kedip, sama redupnya dengan harapan di dadaku. Di layar *retak*, chat darimu masih menggantung: "Sedang mengetik..." Sudah tiga hari. Tiga hari tanpa suara, tanpa emoji konyolmu. Dunia ini memang sudah gila, tapi kehilang kamu terasa seperti **APOKALIPSIS** pribadi. Aku, Lin Yue, hidup di sisa-sisa masa lalu. Di sini, kenangan tentang mentari pagi masih beredar, meski langit lebih sering menangis abu. Dulu, aku adalah perancang mimpi, kini hanya pemulung fragmen kebahagiaan. Dan kamulah, *Jing Wei*, fragmen terindah yang kutemukan di antara reruntuhan. Tapi kamu... kamu hidup di masa depan. Aku tahu itu dari serpihan pesan yang berhasil menembus celah waktu. Kamu bicara tentang kota-kota terapung, tentang AI yang mengendalikan mimpi, dan tentang rindu yang membakar lebih panas dari matahari. Kamu bilang, di sana, cinta adalah algoritma. Tapi kamu memilihku, seorang pria dari masa lalu, seorang *anakronisme* yang mencintaimu dengan jantung yang berdetak manual. Kita bertemu di antara sinyal yang hilang, di persimpangan waktu yang kacau. Aku melihatmu sebagai bayangan digital, wajahmu berpendar di balik kabut radioaktif. Suaramu terdengar seperti bisikan dari bintang yang meledak. Kamu menyentuh tanganku, dan aku merasakan listrik statis—seperti tersambar petir dari galaksi lain. Kita bicara tentang hal-hal absurd: tentang resep kopi yang sempurna, tentang teori konspirasi tentang kucing yang menguasai dunia, tentang betapa lucunya jika kiamat datang dengan disco soundtrack. Kita tertawa, terbahak-bahak, meski air mata seringkali ikut mengalir. Karena kita tahu, pertemuan ini *sementara*. Kita tahu, kita terikat takdir yang... rumit. Suatu malam, kamu bercerita tentang sebuah **RAHASIA**. Tentang bagaimana kamu sebenarnya adalah hasil eksperimen *Waktu*. Tentang bagaimana kamu diciptakan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu—kesalahan yang, tanpa sadar, kulakukan. Kamu adalah *ECHO*, Jing Wei. Gema dari cinta yang tak pernah selesai, yang terus berulang dalam lingkaran waktu. Dan aku? Aku hanyalah katalisator. Pemicu. Alat untuk melahirkanmu. Aku terdiam. Langit di atasku runtuh—tidak secara fisik, tapi dalam hatiku. Jadi, semua ini... hanya ilusi? Hanya simulasi? Kamu tersenyum, senyum yang lebih menyakitkan dari pedang yang menembus jantung. "Bahkan gema pun bisa terasa nyata, Lin Yue. Bahkan kutukan pun bisa menjadi cinta." Layar ponselku berkedip sekali lagi. Chat darimu muncul, pesan terakhir sebelum sinyal benar-benar mati: "Maaf... *aku harus pergi... untuk memperbaiki... semuanya...*." Dan kemudian, kegelapan. Aku berdiri di reruntuhan, sendirian, dengan hati yang berlubang. Udara terasa dingin, seperti ciuman terakhir dari masa depan. Di langit yang gelap gulita, aku berbisik: *Apakah kita akan bertemu lagi di akhir zaman, ataukah ini hanyalah akhir dari semua sinyal...?*
You Might Also Like: Ini Baru Cerita Janji Itu Tertinggal Di

0 Comments: