**Ia Menatap Namaku Di Kontak, Lalu Menutup Aplikasi** Di tengah remang senja Kota Terlarang, di mana kenangan berbisik di setiap sudut ista...

FULL DRAMA! Ia Menatap Namaku Di Kontak, Lalu Menutup Aplikasi FULL DRAMA! Ia Menatap Namaku Di Kontak, Lalu Menutup Aplikasi

FULL DRAMA! Ia Menatap Namaku Di Kontak, Lalu Menutup Aplikasi

FULL DRAMA! Ia Menatap Namaku Di Kontak, Lalu Menutup Aplikasi

**Ia Menatap Namaku Di Kontak, Lalu Menutup Aplikasi** Di tengah remang senja Kota Terlarang, di mana kenangan berbisik di setiap sudut istana, seorang gadis bernama Mei Lien berdiri. Gaun sutra merahnya bagai kobaran api yang menari di antara bayangan naga. Matanya, sekelam obsidian, menatap ke kejauhan, ke arah cakrawala yang memudar. Di tangannya tergenggam ponsel – artefak modern yang terasa begitu asing di tengah kemegahan dinasti. Jari-jarinya yang lentik menyentuh layar. Nama itu tertera di sana, **TERANG** benderang seperti bintang jatuh di langit malam: Li Wei. Hatinya berdesir bagai danau yang dilempar batu kerikil. Ingatan tentang senyumnya, tawanya, sentuhan tangannya – *semua itu* terasa begitu nyata, namun sekaligus bagai fatamorgana di padang pasir. Ia menatap nama itu, lama sekali. Seolah mencari jejak dirinya di sana, di antara piksel-piksel yang menyusun kata. Ia mencoba mengingat suara Li Wei, aroma teh persik yang selalu mereka minum bersama di taman tersembunyi istana. Namun, yang ia temukan hanya gema yang semakin lama semakin memudar. Seperti lukisan tinta yang terkena air hujan. Lalu, dengan gerakan pelan, ia menutup aplikasi. Layar ponselnya kembali gelap, mencerminkan wajahnya yang diliputi keraguan. Apakah Li Wei benar-benar ada? Apakah semua ini hanya mimpi indah yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan? Malam itu, ia bermimpi. Ia berlari di antara hutan bambu yang tak berujung, memanggil nama Li Wei. Suaranya hanya disambut oleh desiran angin dan gemerisik dedaunan. Di kejauhan, ia melihat siluet seorang pria berdiri di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Ia berlari sekuat tenaga, berharap dapat meraihnya. Saat ia akhirnya sampai, pria itu berbalik. Wajahnya tertutup bayangan. Namun, ada sesuatu yang familiar dari tatapannya – tatapan yang membuatnya sesak napas. "Li Wei?" bisiknya, nyaris tak terdengar. Pria itu tersenyum, sebuah senyum yang dingin dan hampa. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah *cincin* yang terukir dengan nama Mei Lien. Lalu, ia membuka mulutnya dan berkata, "Aku adalah _ingatan_mu, Mei Lien. Aku adalah bayangan dari cinta yang tak pernah kau miliki." Air mata mengalir di pipi Mei Lien. Kebenaran itu begitu **PAHIT** dan menyakitkan. Li Wei tidak pernah ada. Ia hanyalah produk dari imajinasinya, sebuah pelarian dari kesepian dan kehampaan hidupnya. Namun, ada sesuatu yang lebih **MENGERIKAN** dari kenyataan itu. Saat Mei Lien terbangun, ia menemukan sebuah lukisan di kamarnya. Lukisan itu menggambarkan dirinya dan Li Wei sedang berdiri di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Di bawah lukisan itu tertulis sebuah kalimat dengan tinta emas: "Kita akan bertemu lagi, di dimensi yang terlupakan." Dan di kontak ponselnya, nama Li Wei telah hilang. *Apakah ia benar-benar telah pergi, atau justru semakin dekat?*
You Might Also Like: Eddies Tattoos Forecasted His Fate In

0 Comments: