**Janji yang Kuterima Sebagai Luka** Kabut menggantung di puncak Gunung Lian Shan, serupa kain sutra kelabu yang menutupi rahasia. Di tengah sunyi, sosok berjubah hitam berdiri mematung. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan, namun aura dingin yang menguar darinya cukup untuk membekukan hati. Setelah sepuluh tahun menghilang – *dinyatakan tewas* dalam pertempuran di Lembah Naga – ia kembali. Xiao Zhen. Istana Kekaisaran menyambut kedatangannya dengan keheningan yang menusuk. Lorong-lorong panjang dan sunyi, diterangi obor yang menari-nari, terasa bagai labirin tanpa ujung. Pertemuan pertamanya adalah dengan *Dia*. Kaisar Li Wei, adik laki-lakinya, yang kini duduk di singgasana yang seharusnya menjadi miliknya. "Xiao Zhen," suara Kaisar Li Wei bergetar nyaris tak terdengar. Matanya, yang dulu penuh dengan kekaguman pada kakaknya, kini dipenuhi ketakutan dan...penyesalan? "Kau...kau hidup." Xiao Zhen membuka tudungnya perlahan. Wajahnya, meski sedikit menua, masih menyimpan ketampanan yang dulu membuat para wanita pingsan. Tapi, ada yang berbeda. Mata itu...dingin, kosong. "Ya, *kakak*mu hidup. Dan aku kembali untuk menagih janji." Suara Xiao Zhen lembut, namun setiap kata terasa bagai *jarum es* yang menusuk jantung. "Janji? Janji apa?" Li Wei tergagap. Peluh membasahi dahinya. Xiao Zhen tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Dulu, kau bersumpah setia padaku. Kau berjanji akan melindungiku. Kau berjanji..." Ia mendekat, menatap adiknya dengan intens. "...akan memberikan nyawamu untukku jika diperlukan." Tensi di ruangan itu menajam, bagai bilah pedang yang ditarik dari sarungnya. Li Wei mundur selangkah. "Aku...aku dipaksa! Permaisuri Xie yang merencanakan semuanya! Dia yang memerintahkan pembantaian di Lembah Naga!" Xiao Zhen tertawa hambar. "Permaisuri Xie? Kau selalu pandai mencari kambing hitam, Li Wei. Tapi, aku sudah lama tahu kebenarannya. Aku tahu bahwa *kau* yang merencanakan semuanya." Li Wei menggeleng panik. "Tidak! Aku bersumpah! Aku tidak tahu apa-apa!" Xiao Zhen mengangkat tangannya, menghentikan ucapan adiknya. "Cukup. Aku tidak tertarik dengan kebohonganmu. Aku hanya ingin tahu...mengapa?" Li Wei menunduk, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku...aku ingin menjadi kaisar. Aku *menginginkan* kekuasaan. Maafkan aku, kakak." Xiao Zhen mendekat, berbisik di telinga Li Wei. "Kau tahu, Li Wei...selama ini aku mengira kau korban. Aku mengira kau dimanipulasi oleh Permaisuri Xie. Aku *SALAH*." Lalu, Xiao Zhen menarik pedangnya. Beberapa saat kemudian, lorong istana kembali sunyi. Tubuh Kaisar Li Wei tergeletak tak bernyawa di lantai, matanya menatap kosong ke langit-langit. Xiao Zhen membersihkan pedangnya dengan kain, lalu menatap mayat adiknya dengan ekspresi kosong. Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan istana yang dibangun di atas pengkhianatan. Kabut di Gunung Lian Shan menyambutnya kembali, menyembunyikan sosoknya dalam kegelapan. *Karena, pada akhirnya, benang takdir selalu berputar sesuai kehendak sang dalang, bukan boneka.*
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Mimpi Dikejar Kadal

0 Comments: