Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Cinta yang Menyamar Sebagai Dosa', dengan gaya yang Anda minta: **Cinta yang Menyamar Sebagai Dosa** Kabut **TEBAL** menyelimuti puncak Gunung Liang, menyembunyikan tebing curam dan jalan setapak berliku. Di tengah kabut itu, seorang pria berdiri. Wajahnya tertutup kerudung, hanya siluet tubuhnya yang tampak ringkih diterpa angin dingin. Dia adalah Li Wei, *pria yang kembali dari kematian*. Dua belas tahun lalu, Li Wei jatuh ke jurang, sebuah 'kecelakaan' tragis yang merenggut nyawanya. Atau begitulah yang diyakini semua orang. Sekarang, dia berdiri di depan Gerbang Naga, gerbang yang memisahkan dunia fana dengan *Istana Bulan*, kediaman Kaisar dan Permaisuri. Di dalam istana, di sebuah taman tersembunyi yang ditumbuhi bunga *mei* yang sedang mekar, duduk Permaisuri Hua. Rambutnya disanggul tinggi dengan jepitan emas berbentuk naga. Wajahnya yang cantik tampak sayu, dihiasi kerutan halus yang menceritakan kisah panjang kesepian. Li Wei melangkah masuk, kerudungnya tersibak oleh angin. Permaisuri Hua menoleh, matanya membelalak. "Li Wei? Mustahil…" bisiknya, suaranya gemetar. "Mustahil?" Li Wei tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Banyak hal yang *mustahil* terjadi di istana ini, Yang Mulia. Termasuk kematian yang terencana." Ruangan itu terasa membeku. Hanya suara gemericik air mancur yang terdengar. "Apa maksudmu?" Permaisuri Hua berusaha menguasai diri. "Kau tahu betul maksudku. Jurang itu… bukan tempat yang tepat untuk orang yang dicintai. Kecuali, tentu saja, jika ada yang menginginkannya di sana." Permaisuri Hua berdiri. "Kau menuduhku?" "Aku tidak menuduh siapa pun. Aku hanya bertanya… **SIAPA** yang menyuruh penjaga itu membuka gerbang ke jurang saat badai salju?" Suara Li Wei terdengar lembut, namun setiap kata bagai anak panah yang menancap dalam hati. "Itu kecelakaan! Aku bersumpah…" Li Wei melangkah mendekat. "Sumpah? Kata-kata kosong. Cinta yang kau berikan padaku, Permaisuri… terasa seperti belati yang ditikamkan perlahan. Kau memberiku posisi di sisimu, memberiku kekuasaan, tapi selalu dengan tatapan **curiga**. Kau *TAKUT* padaku, bukan?" Permaisuri Hua terpojok. Air mata mengalir di pipinya. "Aku… aku mencintaimu!" Li Wei tertawa pelan. Tawa yang membuat bulu kuduk meremang. "Cinta? Itu hanya alasan untuk **MENGUASAI**. Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau meracuni tehku sedikit demi sedikit, agar aku bergantung padamu? Agar aku tidak bisa meninggalkanmu?" Permaisuri Hua terisak. "Aku… aku hanya ingin bersamamu selamanya." Li Wei mendekat, membisikkan kata-kata yang akan menghantui sang Permaisuri selamanya: "Kau salah. Aku yang memilih jurang itu. Aku memilih untuk *menghilang*, untuk melihat seberapa jauh kau akan pergi untuk 'mencintaiku'. Ternyata… **Kau akan melakukan apa saja**." Li Wei berbalik, meninggalkan Permaisuri Hua yang hancur di taman bunga mei. Kebenaran telah terungkap. Korban yang dianggap lemah… ternyata dalang dari semua ini. Li Wei tidak mati. Dia hanya bersembunyi, membiarkan 'cinta' Permaisuri Hua membongkar dirinya sendiri. Dan kini, dia kembali, bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk membuktikan: **Bahwa cinta terburuk adalah cinta yang digunakan sebagai senjata.**
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama Modal

0 Comments: