Oke, ini dia kisah Dracin fantasi yang kamu minta, dengan semua elemen yang kamu inginkan: **Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-Diam Berharap Kau Terus Melakukannya** Lentera-lentera teratai **bercahaya** di permukaan Sungai Baihua, memantulkan gemerlap bintang yang tak terhitung jumlahnya. Di dunia manusia, Xi Mei, seorang gadis biasa dengan hati *yang penuh mimpi*, menjalani hari-harinya. Tapi di dunia roh, ia dikenal sebagai Bai Lian, "Bunga Teratai Putih," keturunan terakhir dari garis *penyihir bulan*. "Aku menyuruhmu berhenti menatapku, Jing Wei," bisiknya pada seorang pemuda yang selalu mengikutinya, bayangan yang terpantul di danau. Bayangan itu, *Jing Wei*, tersenyum pahit. "Bagaimana mungkin aku bisa berhenti, Bai Lian? Takdir kita terikat." Jing Wei adalah *Roh Angin*, terikat untuk melindungi Bai Lian, meskipun ia *diam-diam* mencintainya. Bulan, sang saksi bisu, seolah mengingat nama-nama mereka, membisikkannya ke dalam hembusan angin malam. Xi Mei tidak tahu apa-apa tentang Bai Lian, tentang warisan sihir yang mengalir dalam darahnya, atau tentang takdir yang menantinya di dunia roh. Baginya, dunia roh hanya *mimpi buruk* yang sering menghantuinya. Suatu malam, Xi Mei melihat bayangan Jing Wei *meninggalkan* pantulannya. Jing Wei berlutut di hadapannya. "Xi Mei, aku tahu kamu tidak mengingatku. Tapi dunia roh membutuhkanmu. Kematianmu di dunia lama… itu *bukanlah* akhir. Itu adalah *awal*." Kata-kata Jing Wei adalah *kunci*. Saat ia menyentuh tangan Xi Mei, ingatan Bai Lian membanjiri benaknya. Ia mengingat istana kristal di bawah bulan, ramuan yang mengalir seperti sungai, dan ancaman *tersembunyi* yang membayang di dunia roh. Ia ingat *dirinya* yang dulu, Bai Lian yang kuat dan berani, yang mati demi melindungi *Kitab Takdir*. "Kitab Takdir," gumam Bai Lian, kini sadar akan identitas sejatinya. "Siapa yang menginginkannya?" Bayangan di belakang Jing Wei bergeser. Sosok *Wanita Tua* muncul, matanya berkilau seperti batu bara. "Aku. Aku yang menciptakan takdirmu, Bai Lian. Aku yang 'membunuhmu' di dunia manusia. Aku yang menginginkan Kitab Takdir untuk mengendalikan *segalanya*." Wanita Tua itu adalah dewi *manipulasi*, yang kekuatannya tumbuh dari kesedihan dan kebingungan. Ia telah menggunakan Jing Wei, menjanjikan kebebasan jika ia membawa Bai Lian kembali ke dunia roh. Tapi Jing Wei *mencintai* Bai Lian, dan ia tidak bisa mengkhianatinya sepenuhnya. Pertarungan sengit terjadi. Bai Lian, dibantu oleh Jing Wei, melawan kekuatan Dewi Manipulasi. Lentera-lentera teratai meledak dalam pancaran cahaya, bayangan-bayangan saling tikam, dan bulan berteriak dalam diamnya. Akhirnya, Bai Lian berhasil merebut kembali Kitab Takdir. Ia melihat ke dalam lembaran-lembaran kuno itu, dan rahasia besar terungkap: Jing Wei tidak hanya melindunginya, ia *mencintainya* dengan pengorbanan yang tak terukur. Dewi Manipulasi telah memanipulasi takdir, membuat Bai Lian percaya bahwa kematian adalah akhir, padahal itu hanyalah permulaan dari rencana jahatnya. "Kau… *mencintaiku*?" bisik Bai Lian, air mata mengalir di pipinya. Jing Wei mengangguk. "Selalu. Bahkan ketika aku berpura-pura tidak melihatmu." Dewi Manipulasi meraung, *kehilangan kendali*. Tapi sudah terlambat. Bai Lian, dengan kekuatan penuh Bunga Teratai Putih, menghancurkan Dewi Manipulasi menjadi debu bintang. Di akhir pertarungan, Bai Lian menatap Jing Wei. “Siapa yang mencintai, dan siapa yang memanipulasi takdir? Pertanyaan itu… *terlalu rumit*.” *Dan bintang-bintang akan selalu menjadi saksi dari cinta dan takdir yang terjalin.*
You Might Also Like: Dracin Terbaru Rahasia Yang Tak Lagi

0 Comments: