**Mahkota Itu Dicuri Saat Upacara, Dan Semua Orang Menyebutnya Keajaiban** Debu emas menari di bawah terik mentari. Bendera-bendera kerajaan...

Cerita Seru: Mahkota Itu Dicuri Saat Upacara, Dan Semua Orang Menyebutnya Keajaiban Cerita Seru: Mahkota Itu Dicuri Saat Upacara, Dan Semua Orang Menyebutnya Keajaiban

Cerita Seru: Mahkota Itu Dicuri Saat Upacara, Dan Semua Orang Menyebutnya Keajaiban

Cerita Seru: Mahkota Itu Dicuri Saat Upacara, Dan Semua Orang Menyebutnya Keajaiban

**Mahkota Itu Dicuri Saat Upacara, Dan Semua Orang Menyebutnya Keajaiban** Debu emas menari di bawah terik mentari. Bendera-bendera kerajaan *berkibar* dengan pongah, seolah tahu drama yang akan segera meletus. Di atas altar megah, Putri Ling Yue, berbalut sutra merah menyala, menanti mahkota pusaka diletakkan di kepalanya. Ia akan menjadi *penguasa* sah Kekaisaran Bulan Sabit. Namun, sebelum gemerlap intan menyentuh rambutnya yang disanggul tinggi, sebuah bayangan kelam menyambar. Mahkota, artefak yang diyakini menyimpan kekuatan leluhur, lenyap dalam sekejap. Kekacauan pecah. Pasukan kerajaan mengepung, para tetua berteriak, dan Putri Ling Yue membeku di tempatnya, wajahnya sepucat rembulan. Di tengah hiruk pikuk itu, matanya bertemu dengan sepasang mata kelabu yang berdiri di antara kerumunan. Pangeran Lian, saudara sepupunya, kekasih masa kecilnya, pria yang hatinya diam-diam didambanya, menatapnya dengan ekspresi...penyesalan? Atau mungkin, rasa iba yang merendahkan. Dulu, di bawah pohon persik yang bermekaran, mereka bersumpah untuk saling melindungi. Lian berjanji akan selalu berada di sisinya, menjadi perisai dari segala bahaya. Namun, ambisi telah meracuni hatinya. Ia memilih kekuatan, ia memilih takhta. Ia bersekutu dengan faksi pemberontak yang haus darah. Malam itu, di taman rahasia, mereka bertemu. Rembulan pucat menyinari wajah Ling Yue yang berlumuran air mata. "Kenapa, Lian? Kenapa kau mengkhianatiku?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Lian mendekat, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh pipinya, namun ia ragu. "Ling Yue... aku... aku tidak punya pilihan." "Tidak punya pilihan?" air mata Ling Yue mengalir deras. "Kau **selalu** punya pilihan! Kau memilih ambisi daripada cinta kita. Kau memilih *kekuatan* daripada kehormatanmu!" Lian terdiam, rahangnya mengeras. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk *negeri* ini. Kau akan mengerti suatu hari nanti." Ling Yue tertawa pahit. "Aku mengerti sekarang. Aku mengerti bahwa semua janji kita hanyalah debu yang tertiup angin." Ia menatapnya dengan tatapan yang sedingin es. "Kau telah membunuh semua yang kurasa untukmu, Lian." Lian menunduk, tidak mampu menatap mata yang dulunya penuh cinta itu. "Maafkan aku, Ling Yue. Aku... aku akan *selalu* mencintaimu." Ling Yue memalingkan wajahnya. "Cintamu adalah racun, Lian. Dan aku menolak meminumnya lagi." Waktu berlalu. Kekacauan mereda. Orang-orang mulai berbisik tentang "keajaiban" – bagaimana hilangnya mahkota itu telah membangkitkan semangat juang yang tertidur dalam diri Putri Ling Yue. Bagaimana ia, yang semula tampak lemah lembut, menjelma menjadi pemimpin yang tegas dan berani. Ia memimpin pasukan, menumpas pemberontakan, dan merebut kembali takhta dengan tangan besi. Pangeran Lian menghilang, ditelan oleh bayang-bayang masa lalunya. Bertahun-tahun kemudian, Putri Ling Yue, kini Kaisar Bulan Sabit yang perkasa, berdiri di balkon istananya. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kecil dari kayu cendana. Di dalamnya, tergeletak sebuah mahkota – bukan mahkota kerajaan yang hilang, melainkan sebuah mahkota bunga persik yang ia rangkai sendiri saat masih kecil, bersama Lian. Seseorang masuk ke ruangan. Itu adalah kepala kasimnya, membungkuk hormat. "Yang Mulia, Pangeran Lian telah ditemukan. Ia sakit parah dan meminta untuk bertemu dengan Anda." Ling Yue terdiam. Lalu, dengan nada dingin yang menusuk tulang, ia berkata, "Biarkan dia merasakan penyesalan abadi, di mana dia akan mengingat kebahagiaan yang dia hancurkan sendiri; biarkan *KENANGAN* itu menggerogotinya sampai mati." Rasa sakit yang kau sebabkan padaku, akan menimpa dirimu sendiri, berlipat ganda.
You Might Also Like: 10 Tips Skincare Lokal Untuk Kulit

0 Comments: