**Cinta yang Tak Lagi Punya Nama** Langit Jakarta era 2077 memuntahkan hujan *pixel*. Anya, dengan rambut dicat **UNGGU NEON**, menatap layar holografiknya. Pesan dari "Anon_Echo" masih menggantung: *sedang mengetik*. Sudah tiga hari. Tiga hari yang terasa seperti tiga dekade di dunia digital yang retak ini. Anya mendesah. Cinta di era ini seperti sinyal Wi-Fi, kadang ada, kadang hilang di tengah jalan. Di sebuah kafe kumuh era 1997, dengan aroma kopi basi dan asap kretek yang menyesakkan, Rian menatap layar Nokia 3310-nya yang retak. Nama Anya berkedip di sana. *Missed call*. Rian mengacak rambutnya yang berantakan. Dia tahu, setiap kali dia mencoba menelepon balik, nomor itu selalu *invalid*. Cinta mereka memang aneh, tumbuh di celah waktu yang tak seharusnya ada. Anya menemukan foto Rian di forum *retro-tech* yang terlarang. Seorang anak muda dengan mata teduh dan senyum yang menular, terjebak dalam dunia *dial-up* dan lagu-lagu Oasis. Rian menemukan potongan video Anya di arsip digital kuno. Seorang gadis dengan semangat membara dan mimpi-mimpi setinggi gedung pencakar langit, terjebak dalam dunia *cyberpunk* dan janji-janji palsu Metaverse. Mereka berkomunikasi melalui anomali sinyal, pesan yang melompat antar dimensi, suara yang terdistorsi oleh waktu. Anya menceritakan tentang dunia di mana pohon hanya ada di museum dan hujan turun dari awan buatan. Rian menceritakan tentang dunia di mana kaset pita masih berjaya dan cinta ditulis dalam surat tangan. Namun, keanehan semakin menjadi. Lagu-lagu yang dinyanyikan Anya seakan sudah pernah didengar Rian. Mimpi-mimpi Anya, seperti deja vu yang menyakitkan, terasa familiar bagi Rian. Dan sebaliknya. Mereka seperti membaca naskah yang sama, tapi dipentaskan di panggung yang berbeda. Suatu malam, Anya menemukan sebuah catatan di balik layar holografiknya. Tulisan tangan kuno, dengan tinta yang memudar, berbunyi: "*Cari dia, Nak. Dia adalah **ECHO** dari dirimu yang hilang.*" Rian menemukan sebuah chip memori usang di balik mesin ketiknya. Berisi rekaman suara Anya, yang berbisik lirih: "*Temukan aku, Rian. Aku adalah **KENANGAN** dari masa depanmu yang terhapus.*" Mereka tersadar. Mereka bukan hanya dua orang yang jatuh cinta di dua era berbeda. Mereka adalah *fragmentasi* dari satu jiwa yang sama, terpecah belah oleh **_paradoks waktu._** Cinta mereka bukan lahir dari pertemuan, tapi dari *reinkarnasi* yang gagal, _gema_ dari kehidupan yang tak pernah selesai. Satu pesan terakhir muncul di layar Anya, sebelum dunia di sekelilingnya hancur menjadi kepingan pixel: "Apakah kau ingat janji kita, Sayang… sebelum semuanya **DIMULAI**?"
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Interpretasi Mimpi_0733707097

0 Comments: