**Kau Mencintaiku Tanpa Sadar, Setiap Sentuhanmu Membuka Luka Lama** Embun pagi merayap di kelopak bunga teratai, serupa dengan sentuhan lem...

Kisah Populer: Kau Mencintaiku Tanpa Sadar Setiap Sentuhanmu Membuka Luka Lama Kisah Populer: Kau Mencintaiku Tanpa Sadar Setiap Sentuhanmu Membuka Luka Lama

Kisah Populer: Kau Mencintaiku Tanpa Sadar Setiap Sentuhanmu Membuka Luka Lama

Kisah Populer: Kau Mencintaiku Tanpa Sadar Setiap Sentuhanmu Membuka Luka Lama

**Kau Mencintaiku Tanpa Sadar, Setiap Sentuhanmu Membuka Luka Lama** Embun pagi merayap di kelopak bunga teratai, serupa dengan sentuhan lembut Li Wei, yang merambat di kulitku, membangkitkan memori pahit yang seharusnya terkubur dalam-dalam. Ia, pewaris tunggal Kekaisaran Anggur, seorang pria yang dikelilingi kemewahan dan kekuasaan, jatuh cinta padaku, seorang gadis desa biasa yang menyembunyikan identitas dan dendam yang membara. Aku adalah Mei Lan, atau begitulah mereka menyebutku sekarang. Dulu, aku adalah Putri Ming Yue, saksi bisu pembantaian keluargaku, yang dirancang oleh kakek Li Wei, Kaisar yang kejam. Dendam inilah yang membawaku ke istana, menyamar menjadi pelayan rendahan, mendekati Li Wei dengan senyum manis yang menyimpan racun. "Mei Lan," bisiknya suatu malam, ketika rembulan mengintip malu-malu di balik awan. Jari-jarinya menyentuh pipiku, *hangat dan tulus*. Hatiku berdebar keras, bukan karena cinta, tapi karena **amarah** yang mendidih. Setiap sentuhan, setiap tatapan penuh kasih, hanya mengorek luka lama, mengingatkanku pada darah yang tertumpah, pada jeritan pilu ibuku. Li Wei hidup dalam kebohongan yang terpatri dalam DNA kekaisarannya. Ia percaya kakeknya adalah pahlawan, penyelamat negara. Aku, sebaliknya, hidup untuk mencari kebenaran, untuk mengungkap kejahatan yang disembunyikan rapat-rapat di balik tirai sejarah. Kebenaran yang akan menghancurkan dunianya, dan – *mungkin*, menghancurkanku juga. Waktu berlalu. Aku semakin dekat dengan Li Wei, semakin dalam ia terjerat dalam pesonaku. Aku belajar bagaimana memanfaatkan kelembutannya, bagaimana memanipulasi ketulusannya. Aku menjadi bayangan dalam hidupnya, ada di mana-mana, namun selalu menjaga jarak yang aman. Konflik dalam diriku semakin membara. Di satu sisi, aku merasa jijik dengan diriku sendiri, dengan kepura-puraan ini. Di sisi lain, aku merasa terdorong oleh *keadilan*, oleh janji yang kuucapkan di depan makam keluargaku. Aku harus membalas dendam. Puncak dari segalanya tiba ketika aku menemukan dokumen rahasia yang membuktikan kejahatan kakek Li Wei. Aku membawanya kepadanya, di malam ulang tahunnya. Ia membacanya dengan wajah pucat pasi, matanya membelalak tak percaya. "Tidak mungkin," bisiknya, suaranya bergetar. "Kakekku… tidak mungkin melakukan ini." Aku tersenyum dingin. "Kebenaran memang pahit, Pangeran Li Wei. Tapi inilah kenyataannya. Kekaisaran Anggur dibangun di atas darah dan air mata." Ia menatapku dengan pandangan terluka, seolah aku telah menusuk jantungnya dengan belati. "Kau… kau tahu ini semua?" Aku mengangguk. "Sejak awal. Aku adalah Putri Ming Yue, pewaris Kerajaan Bulan, yang kau hancurkan." Wajahnya hancur. Kesedihan dan pengkhianatan terpancar jelas di matanya. Aku bisa melihat cintanya padaku mati, sedikit demi sedikit, hancur berkeping-keping. Balas dendamku dimulai. Aku membeberkan kebenaran kepada rakyat, membangkitkan pemberontakan yang mengguncang kekaisaran. Li Wei, dalam keputusasaannya, memilih untuk tidak membela kakeknya. Ia membiarkan keadilan ditegakkan, meskipun itu berarti kehancuran keluarganya. Kaisar, yang dulunya berkuasa dan kejam, kini hanya tinggal seonggok tubuh tua renta yang menunggu kematian. Li Wei, sang pangeran yang dicintai, kehilangan segalanya: kekuasaan, cinta, dan kehormatan. Pada akhirnya, aku berdiri di hadapannya, di taman istana yang sunyi. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya pelan. Aku tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan perpisahan, senyum yang lebih tajam dari pedang. "Aku akan pergi. Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan." Aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Li Wei berdiri terpaku di sana, di tengah kehancuran yang kubuat. Aku tahu, *dendamku* telah terlaksana. Tapi ada sesuatu yang hilang dalam diriku, sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan. Saat aku menaiki kereta yang akan membawaku pergi, aku mendengar suara Li Wei memanggil namaku. Aku tidak menoleh. Aku tahu, di suatu tempat, ia masih mencintaiku. Dan itulah balas dendam terkejamku. Ia akan selamanya mengenangku, sebagai wanita yang mencintai dan menghancurkannya. Apakah aku akan benar-benar pergi, atau akankah bayang-bayang masa lalu terus menghantuiku?
You Might Also Like: 7 Fakta Arti Mimpi Disengat Lalat Simak

0 Comments: