Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin dengan permintaan yang Anda berikan: **Kau Datang di Tengah Upacara, dan Aku Lupa Siapa Pengan...

Cerpen: Kau Datang Di Tengah Upacara, Dan Aku Lupa Siapa Pengantinnya Cerpen: Kau Datang Di Tengah Upacara, Dan Aku Lupa Siapa Pengantinnya

Cerpen: Kau Datang Di Tengah Upacara, Dan Aku Lupa Siapa Pengantinnya

Cerpen: Kau Datang Di Tengah Upacara, Dan Aku Lupa Siapa Pengantinnya

Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin dengan permintaan yang Anda berikan: **Kau Datang di Tengah Upacara, dan Aku Lupa Siapa Pengantinnya** Alunan *guqin* melengking lirih, menembus dinginnya malam. Udara penuh sesak dengan wangi dupa dan bunga persik. Di tengah pelaminan megah, berbalut sutra merah menyala, aku berdiri. Bukan sebagai mempelai wanita, tapi sebagai… saksi bisu. Pengkhianatan ini, rasanya lebih tajam dari ribuan jarum. Dulu, janji setia terucap di bawah pohon *sakura* yang bermekaran. Sekarang, pria itu, *dia*, berdiri di samping wanita lain. Bahagia? Mungkin. Pandanganku tertuju pada sosok yang baru saja memasuki gerbang. Pria itu… *Yun*, dengan jubah hitamnya yang berkibar tertiup angin malam. Matanya, setajam elang, menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti tepat padaku. Ada sesuatu di sana… bukan amarah, bukan pula kekaguman. Hanya… **kegelapan**. Aku menunduk. Bukan karena takut. Bukan pula karena malu. Aku menyimpan rahasia. Rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan bukan hanya *dia*, tapi seluruh Dinasti. Upacara terus berlangsung. Senyum palsu menghiasi wajahku saat aku menerima ucapan selamat. Dalam hati, aku merapalkan mantra. Bukan mantra cinta, melainkan mantra pengubur kenangan. Malam-malam berikutnya, aku menghabiskan waktu di perpustakaan kuno, mencari petunjuk. Yun sering hadir, bayang-bayang yang mengawasi dari kejauhan. Kami tidak berbicara. Namun, aku tahu, dia merasakan kegelisahanku. Dia *tahu* ada sesuatu yang salah. Misteri itu perlahan menguat. Kalung giok peninggalan ibuku, hilang. Surat wasiat mendiang Kaisar, raib. Dan lukisan tersembunyi di balik dinding kamarku, menunjukkan simbol yang tidak kukenali. Simbol yang mengarah pada… pemberontakan. Lalu, malam itu tiba. Yun datang ke kamarku. Bukan untuk mencela, melainkan untuk membantu. "Aku tahu kau menyimpan sesuatu," bisiknya, suaranya rendah dan berat. "Aku tahu kau *tidak* bahagia." Aku menceritakan semuanya. Tentang pengkhianatan, tentang rahasia, tentang simbol pemberontakan. Tentang… **ayahku**, yang ternyata adalah dalang di balik semua ini. Yun terdiam. "Ayahmu…?" Ya. Ayahku, seorang jenderal besar, ternyata diam-diam merencanakan kudeta. Dan *dia*, si pengantin pria, hanyalah pion dalam permainannya. Balas dendamku bukan dengan pedang. Bukan dengan racun. Melainkan dengan kebenaran. Aku membongkar rencana ayahku di hadapan seluruh istana. *Dia*, si pengantin pria, terkejut dan hancur. Ayahku, ditangkap dan dipenjara. Upacara pernikahan dibatalkan. *Dia* kehilangan segalanya. Aku? Aku tetap berdiri di sini, di tengah reruntuhan istana. Bebas. Namun, juga hampa. Yun mendekatiku. "Kau melakukan hal yang benar," ucapnya. Aku tersenyum pahit. "Benar? Atau hanya takdir yang berbalik arah?" Malam itu, aku melihat Yun pergi. Bayangannya menghilang ditelan kegelapan. Aku tahu, kami tidak akan bertemu lagi. Aku menutup mata, merasakan dinginnya angin malam. *Dan aku masih tidak tahu, siapa sebenarnya pengantin pria yang seharusnya kupersiapkan kehadirannya malam itu.*
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Produk Skincare

0 Comments: