Oke, ini dia kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Langit yang Tak Bisa Lupa': **Langit yang Tak Bisa Lupa** Langit Kota Shanghai malam itu bertabur bintang, ironisnya, sama sekali tak mencerminkan kekelaman hatiku. Di penthouse megah ini, di bawah sorot lampu kristal yang **MENYILAU**kan, aku tersenyum. Senyum yang diajarkan oleh hidup, senyum yang kini menjadi topeng sempurna untuk menyembunyikan badai di dalam dada. "Xiulan, malam ini kau terlihat sangat cantik," bisik Li Wei, tangannya melingkar posesif di pinggangku. Aroma parfum mahalnya menusuk hidungku, mengingatkanku pada malam-malam yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, namun kini hanya terasa seperti pelukan beracun. Dulu, sentuhan ini membuat jantungku berdebar; kini, hanya rasa mual yang kurasa. "Terima kasih, Wei," jawabku, suaraku terdengar tenang, bahkan mungkin terlalu tenang. Aku sudah terlalu lama berlatih. Dua tahun lalu, Li Wei adalah duniaku. Janji-janjinya adalah mentari yang menghangatkan jiwaku. “Aku akan selalu menjagamu, Xiulan. Selamanya.” Kata-kata itu, seperti belati perak yang berkilau indah, kini berkarat dan menancap dalam di jantungku. Ternyata, 'selamanya' baginya hanya bertahan selama tawaran menggiurkan dari keluarga Chen muncul. Pernikahan politis, katanya. Demi kelangsungan bisnis keluarga Li. Aku ingat hari itu. Aku, dengan gaun putih impianku, menunggunya di altar. Dia tidak datang. Bukan kecelakaan, bukan tragedi. Dia memilih wanita lain. Dia memilih uang. Dunia memang kejam, tapi aku lebih kejam. Setelah malam itu, aku menghilang. Aku belajar. Aku merancang. Aku menjadi Xiulan yang baru – dingin, perhitungan, dan tak tersentuh. Aku memanjat tangga kesuksesan dengan kuku dan gigiku, sampai aku berada di posisi ini: pemilik perusahaan properti yang nilainya berkali-kali lipat dari perusahaan keluarga Li. Sekarang, dengan senyum palsu terpampang di wajahku, aku menyerahkan gelas anggur padanya. "Wei, aku punya hadiah kecil untukmu." "Untukku? Apa itu, Xiulan?" Matanya berbinar penuh harap. Dia pikir aku akan memberinya cinta? Ampun. Aku mengangguk, memberikan isyarat kepada asistenku. Asistenku menyerahkan sebuah map tebal. Li Wei membuka map itu dan wajahnya perlahan memucat. Isi map itu adalah bukti-bukti – bukti penggelapan dana, bukti penyuapan, bukti perselingkuhan Li Wei selama bertahun-tahun. Bukti yang cukup untuk menjebloskannya ke penjara seumur hidup dan menghancurkan reputasi keluarganya. "Xiulan... apa ini?" suaranya bergetar. Aku mengangkat bahu. "Kenyataan, Wei. Kau memilih uang daripada cinta. Sekarang, kau akan kehilangan keduanya. Keluargamu...perusahaanmu...semuanya akan menjadi milikku." Air mata mulai mengalir di pipinya. Aku tidak merasakan apa-apa. Hati ini sudah terlalu lama membeku. "Aku... aku menyesal, Xiulan! Aku *MOHON* maafkan aku!" Kata-kata itu, permohonan itu, tidak membuatku bahagia. Hanya rasa hampa yang kurasa. Ini bukan kemenangan. Ini hanya... akhir. Aku berbalik, meninggalkan Li Wei yang hancur di penthouse-ku. Sebelum melangkah keluar, aku berkata dengan nada dingin, "Penyesalan adalah penjara yang lebih kejam daripada jeruji besi, Wei. Nikmatilah." Aku meninggalkannya, dengan penyesalan abadi menggerogotinya, lebih perih dari luka fisik manapun. Pembalasanku selesai. Tapi hatiku tetap kosong. Langit malam tetap kelam. Kemudian, ketika pintu lift tertutup, aku menyadari satu hal yang ***MENGERIKAN***: cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama...
You Might Also Like: Tutorial Pembersih Wajah Centella

0 Comments: