**Senja Berlumur Darah Anggrek** Hujan menggigil membasahi Kota Tua, airnya merayap di atap-atap genting, menetes dari ujung payung usang milik Lian. Aroma melati yang memabukkan dari kedai teh di seberang jalan tak mampu menghangatkan hatinya yang beku. Lima tahun. Lima tahun berlalu sejak malam **itu**. Malam di mana Lin, cintanya, belahan jiwanya, menikamnya dengan kata-kata yang lebih tajam dari pedang. Dulu, di bawah pohon sakura yang bermekaran, mereka bersumpah setia. Dulu, tatapan mata Lin adalah mentari yang menghangatkan. Sekarang, mata itu hanya memancarkan dinginnya pengkhianatan. Lian menyesap tehnya, merasakan pahitnya mengalir di tenggorokan, serupa dengan kepahitan yang meracuninya selama ini. Bayangan Lin muncul di tengah kepulan uap, tersenyum mengejek. Bayangan yang selalu menghantuinya. Setiap kali hujan turun, kenangan itu kembali. Kenangan tentang malam di kuil terbakar. Kenangan tentang Lin, berdiri di tengah kobaran api, senyum sinis menghiasi wajahnya. *“Kau pengkhianat, Lian! Kau pantas mati!”* Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya. Tapi Lian tak mengerti. Ia tak pernah mengkhianati Lin. Cintanya pada Lin adalah abadi, seluas langit, sedalam samudra. Lampu lentera di kedai teh berkedip-kedip, cahayanya nyaris padam, seolah ikut merasakan penderitaan Lian. Ia menatap pantulan dirinya di jendela, wajahnya pucat dan lelah. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dulu, ia adalah gadis yang penuh cinta. Sekarang, ia hanyalah cangkang kosong yang dipenuhi dendam. Ia bangkit, meninggalkan kedai teh. Tujuannya jelas: Kuil Anggrek. Di sanalah semua dimulai, dan di sanalah semua akan berakhir. Di tengah reruntuhan Kuil Anggrek, Lin menunggunya. Wajahnya tampak lebih tua, matanya dipenuhi penyesalan. "Lian..." Suaranya bergetar. "Aku... aku minta maaf." Lian tertawa. Tawa yang hambar, tanpa kehangatan. "Maaf? Apakah kata maaf bisa mengembalikan apa yang telah kau ambil? Apakah kata maaf bisa menghapus rasa sakit yang telah kau tanam dalam hatiku?" Lin menggeleng. Air mata mengalir di pipinya. "Aku diperalat! Aku tidak tahu apa yang kulakukan!" Lian mendekat, tatapannya menusuk. Di tangannya, tergenggam belati perak. Belati yang sama yang dulu dihadiahkan Lin kepadanya sebagai tanda cinta. "Kau tahu, Lin? Aku telah menghabiskan lima tahun ini untuk merencanakan ini. Setiap tetes air mata, setiap detik kesakitan, aku gunakan untuk mempersiapkan balas dendam yang SEMPURNA." Ia mengangkat belati itu tinggi-tinggi, cahayanya memantul dari bilah tajam. "Kau akan merasakan penderitaan yang sama seperti yang kurasakan, Lin. Kau akan kehilangan segalanya. Dan yang terburuk… kau akan tahu, bahwa semua ini adalah karena..." Kemudian Lian menurunkan belati itu. Hujan semakin deras, menghapus jejak-jejak pertarungan. Di bawah reruntuhan Kuil Anggrek, dua tubuh tergeletak tak bernyawa. Namun, roh Lian tersenyum puas. Dendamnya telah terbalaskan. *RAHASIA reinkarnasi itu adalah bahwa justru MEMORI dari LINTANG LAIN yang MENUNTUN jalan Lian.*
You Might Also Like: Reseller Skincare Bisnis Sampingan

0 Comments: