## Air Mata yang Tak Pernah Diizinkan Jatuh Angin malam kota terlarang menyapu wajah Lin Wei dan Zhao Lian. Dua bayangan berdiri di atas tembok istana, terpisah jarak namun terhubung takdir. Mereka tumbuh bersama, seperti anggrek dan bambu yang saling membelit, di bawah bimbingan Kaisar yang kejam. Lin Wei, sang putri yang menyimpan api pemberontakan di balik senyum manisnya, dan Zhao Lian, *pengawal setia*, yang matanya menyimpan rahasia kelam. "Wei'er," bisik Zhao Lian, suaranya serak bagai desiran sutra yang koyak. "Apakah kau yakin dengan ini?" Lin Wei menoleh, tatapannya sekeras permata giok yang diasah dengan darah. "Kau meragukanku, Lian?" Senyum Zhao Lian tipis, **berbahaya**. "Hanya memastikan, adikku. Ingatlah, *setiap langkah* di istana ini diawasi." Sejak kecil, mereka diajarkan untuk membaca gerak tubuh, menafsirkan setiap tatapan. Istana adalah panggung drama tanpa akhir, di mana setiap senyum bisa menyembunyikan belati terhunus. Mereka bersumpah setia satu sama lain, *darah untuk darah*, namun rahasia memisahkan mereka bagai jurang yang tak terlewati. Rahasia itu adalah kebenaran tentang ibu Lin Wei, permaisuri yang konon meninggal karena sakit, namun dibunuh karena *cinta terlarang*. Zhao Lian tahu siapa pembunuhnya. Dia *melihatnya*. Dia *menyaksikannya*. Tapi dia memilih diam, terikat sumpah kepada...Kaisar. Semakin Lin Wei mendekati kebenaran, semakin keras Zhao Lian mencoba melindunginya. Namun, perlindungan itu terasa seperti jeratan yang perlahan mencekik. Pertanyaan demi pertanyaan, tatapan demi tatapan, Lin Wei mulai curiga. Mungkinkah orang yang paling dipercayainya, orang yang dianggapnya saudara, adalah *pengkhianat* yang selama ini berdiri di sisinya? Malam itu, di bawah rembulan yang pucat, Lin Wei mengkonfrontasi Zhao Lian. "Katakan padaku, Lian. Siapa yang membunuh ibuku?" suaranya bergetar, namun matanya menuntut kebenaran. Zhao Lian menunduk, bayangan menutupi wajahnya. "Itu...urusan istana, Wei'er. Kau tak perlu tahu." "TAK PERLU TAHU?!" Lin Wei meledak. "Ibuku dibunuh! Dan kau...kau tahu siapa pelakunya, bukan?" Keheningan menyelimuti mereka, berat dan menekan. Akhirnya, Zhao Lian mengangkat wajahnya. Matanya berkilat pedih. "Ya. Aku tahu." Pengakuan itu bagai petir yang menyambar. Lin Wei mundur selangkah, terpukul. "Siapa? KATAKAN PADAKU!" Zhao Lian menarik napas dalam. "Kaisar." Lin Wei terdiam. Kaisar...ayahnya sendiri. Kebencian membakar hatinya, menyulut api yang telah lama dipendam. Dia mengacungkan belati ke arah Zhao Lian. "Kau tahu dan kau DIAM? Kau melindunginya?!" Zhao Lian menutup matanya, menerima nasibnya. "Aku terikat sumpah, Wei'er. Aku tak punya pilihan." Lin Wei menyerang. Belati itu meluncur cepat, *menembus jantung* Zhao Lian. Pria itu tersenyum pahit, darah mengalir di bibirnya. "Aku tahu...kau akan melakukan ini," bisiknya. "Aku memang pantas mati." Dengan sisa tenaganya, Zhao Lian menyerahkan gulungan surat kepada Lin Wei. "Bacalah. Itu kebenaran yang sebenarnya. Dan Wei'er...maafkan aku." Zhao Lian ambruk ke tanah, matanya kosong menatap langit. Lin Wei berlutut di sampingnya, air mata akhirnya tumpah, membasahi wajah yang semakin pucat. Dia membuka gulungan itu dan membaca. Di dalamnya, tertulis pengakuan Kaisar. Dia membunuh permaisuri karena *cemburu* pada Zhao Lian. Dia mengira permaisuri mencintai pemuda itu. Dan untuk menutupi perbuatannya, dia mengangkat Zhao Lian sebagai pengawal setia, menjadikannya sandera dalam jaring kebohongannya. Lin Wei berteriak, ratapannya membelah kesunyian malam. Dia telah membunuh orang yang paling mencintainya, orang yang rela berkorban untuk melindunginya. Kebenaran terungkap, namun harga yang harus dibayar terlalu mahal. Balas dendam tak terhindarkan. Lin Wei menggunakan pengakuan Kaisar untuk merebut tahta. Dia membunuh ayahnya sendiri, dengan *tangan gemetar* namun hati yang membeku. Kekaisaran yang dibangun di atas darah dan kebohongan runtuh di bawah kakinya. Namun, kemenangan itu terasa pahit. Lin Wei duduk di singgasana, seorang diri, dikelilingi oleh bayangan masa lalu. Dia telah mendapatkan segalanya, namun kehilangan segalanya. "Aku harap kau memaafkanku, Lian. Aku harap di kehidupan selanjutnya, kita bisa menjadi saudara yang sebenarnya." *Sungguh, aku mencintaimu, Wei'er. Bahkan setelah semua ini.*
You Might Also Like: 52 Manfaat Sabun Cuci Muka Centella

0 Comments: