## Kau Menatapku di Tengah Upacara, dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur dari Sumpah Tabir sutra merah yang menjuntai di depanku terasa mencekik. Aroma dupa dan bunga lili memenuhi udara, namun yang kurasakan hanyalah bau pengkhianatan. Musik *Guzheng* mengalun merdu, namun telingaku menangkap nada-nada kematian. Hari ini, aku menikahi seorang pria yang kuhormati, bukan pria yang kucintai. Di tengah keramaian tamu, aku melihatnya. *Lin Wei.* Mata kami bertemu. Di sana, di kedalaman irisnya yang gelap, kulihat lautan penyesalan, badai janji yang dilanggar, dan kilatan cinta yang tak pernah kesampaian. Mata itu *berbicara*, berteriak lebih keras dari sumpah yang akan kuucapkan sebentar lagi. Mata itu berkata, "Maafkan aku. Aku **gagal** melindungimu." Lima tahun lalu, di bawah pohon persik yang bermekaran, dia berjanji akan menjadikanku ratunya. Dia, putra seorang jenderal yang tersohor, rela menentang dunia demi cintaku, gadis desa biasa. Kami merajut mimpi, memahat harapan di atas batu sungai. Namun, badai politik melanda. Ayahnya dituduh berkhianat. Lin Wei, demi menyelamatkan nyawa keluarganya, terpaksa menikahi putri seorang menteri berpengaruh. Dia meninggalkanku, tanpa sepatah kata pun. Sekarang, di hari pernikahanku dengan putra mahkota, dia berdiri di sana, **terlambat**. Cinta yang terlambat adalah racun yang paling mematikan. Upacara berlanjut. Setiap langkah, setiap ucapan pendeta, terasa seperti tusukan jarum di jantungku. Aku memaksakan senyum, menyembunyikan luka yang menganga. Aku akan memainkan peranku, menjadi istri yang patuh, putri kerajaan yang terhormat. Tapi, di balik topeng kesempurnaan ini, aku menyimpan bara dendam. Saat aku mengangkat gelas arak untuk bersulang dengan suamiku, mataku kembali bertemu dengan mata Lin Wei. Kali ini, aku melihat kepedihan yang lebih dalam, rasa kehilangan yang tak tertahankan. Dia tahu. Dia tahu aku tidak akan pernah menjadi miliknya, dan dia tidak akan pernah bisa menebus dosanya. Beberapa bulan kemudian, rumor beredar tentang skandal korupsi yang melibatkan keluarga Lin Wei. Bukti-bukti memberatkan ditemukan, dan sang jenderal terancam hukuman mati. Aku, sebagai putri kerajaan yang berpengaruh, memiliki akses ke informasi rahasia. Aku *bisa* saja menyelamatkan mereka. Aku *bisa* saja meringankan hukuman Lin Wei. Namun, aku memilih untuk diam. Aku memilih untuk membiarkan takdir menunaikan keadilannya. Bukan aku yang menghukumnya. Bukan aku yang membalas dendam. Hanya takdir, dengan segala ironinya yang kejam. Pada akhirnya, Lin Wei kehilangan segalanya. Keluarganya hancur, reputasinya tercoreng, dan hatinya patah. Dia menatapku dari kejauhan saat eksekusi ayahnya dilaksanakan, matanya dipenuhi dengan kesedihan yang tak terkatakan. Aku membalas tatapannya. Tidak ada kebencian, tidak ada kepuasan. Hanya sebuah pengakuan, bisikan yang hanya bisa didengar oleh angin: "Kau akan selalu menjadi cintaku... **dan kutukanku.**"
You Might Also Like: Contemporary Art Definition Of
0 Comments: