**Ia Mengetik Pesan Panjang, Lalu Tekan Backspace** Hujan kota Seoul malam itu membasahi kaca jendela kafe. Aroma kopi *Americano* memenuhi ...

SERU! Ia Mengetik Pesan Panjang, Lalu Tekan Backspace SERU! Ia Mengetik Pesan Panjang, Lalu Tekan Backspace

SERU! Ia Mengetik Pesan Panjang, Lalu Tekan Backspace

SERU! Ia Mengetik Pesan Panjang, Lalu Tekan Backspace

**Ia Mengetik Pesan Panjang, Lalu Tekan Backspace** Hujan kota Seoul malam itu membasahi kaca jendela kafe. Aroma kopi *Americano* memenuhi udara, bercampur dengan melodi sendu yang diputar dari *speaker*. Jari-jari Hye-jin menari di atas layar ponsel, mengetik pesan panjang, sangat panjang, untuk seseorang yang namanya dulu menghiasi notifikasinya setiap detik. Kini, hanya ada sisa chat lama, tumpukan kata-kata manis yang terasa hambar seperti kopi yang sudah dingin. "Apa kabarmu?" Ia mulai, lalu menghapusnya. Terlalu biasa. "Aku merindukanmu," pikirnya, tapi kata-kata itu terasa terlalu rapuh, terlalu jujur. "Semoga harimu baik," ia mengetik lagi. *Lalu, lagi-lagi, ia tekan tombol BACKSPACE.* ***Backspace.*** Kata itu bergaung di benaknya, seperti gema kenangan yang ingin ia kubur dalam-dalam. Kenangan tentang tawa renyah Jun-ho, sentuhan tangannya yang hangat di tengah dinginnya malam Namsan, dan janji-janji manis yang kini terasa seperti dusta. Hubungan mereka adalah labirin notifikasi dan mimpi. Mereka bertemu di aplikasi kencan, membangun istana cinta dari *emoji* dan stiker. Mereka berbagi mimpi tentang masa depan, tentang rumah kecil di pinggir kota, tentang anak-anak yang mewarisi senyum mereka. Namun, seperti istana pasir, semua itu runtuh diterjang ombak kecurigaan dan kesalahpahaman. Kehilangan itu samar, seperti kabut pagi yang perlahan menghilang saat matahari meninggi. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kata-kata kasar. Hanya jarak yang merayap, sunyi yang menghantui, dan kebenaran yang tersembunyi di balik senyum palsu. Lalu, ada satu rahasia. Rahasia yang Hye-jin temukan secara tidak sengaja di ponsel Jun-ho, terkubur dalam folder tersembunyi. Foto-foto itu, *foto-foto itu* dengan jelas menunjukkan Jun-ho bersama wanita lain, tertawa, berpelukan, berbagi keintiman yang seharusnya hanya miliknya. Kemarahan itu membakar seperti api. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia ingin berteriak, memaki, melampiaskan seluruh sakit hatinya. Tapi, ia memilih diam. Ia memilih kekuatan daripada kelemahan. Ia memilih balas dendam yang *lebih halus*, *lebih pedih*. Malam itu, Hye-jin akhirnya mengetik pesan terakhir. Pesan yang singkat, padat, dan sangat menusuk. "Aku tahu." Ia kirim pesan itu, lalu memblokir nomor Jun-ho. ***KLIK.*** Suara pintu kafe terbuka. Seorang pria berdiri di ambang pintu, memegang payung dan menatapnya dengan tatapan bingung dan penyesalan. Jun-ho. Ia terlambat. Hye-jin tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang tanpa ampun. Ia bangkit, mengenakan mantelnya, dan berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun. Sebelum keluar dari kafe, ia berbalik, menatap Jun-ho sekali lagi, dan berbisik, "Selamat tinggal." Ia melangkah keluar, menerobos hujan kota, meninggalkan Jun-ho yang terpaku di tempatnya, terbungkam oleh kenyataan pahit. Dan *dia* tidak pernah menoleh ke belakang. Sebab... beberapa hati memang lebih baik dibiarkan *kosong*.
You Might Also Like: Ini Baru Cerita Janji Yang

0 Comments: