Baiklah, inilah kisah dracin pendek berjudul 'Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati', dengan sen...

Wajib Baca! Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati Wajib Baca! Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati

Wajib Baca! Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati

Wajib Baca! Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati

Baiklah, inilah kisah dracin pendek berjudul 'Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati', dengan sentuhan misteri dan intrik khas drama Tiongkok: **Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati** Lorong istana terbungkus kabut sunyi, sedingin hati seorang ratu yang terlatih menyembunyikan gejolak. Lilin-lilin menari lemah, memproyeksikan bayangan yang memanjang dan berputar, seolah mengingatkan pada kenangan yang tak pernah benar-benar padam. Ratu Lian berdiri tegak, siluet anggunnya memotong kegelapan. Lima belas tahun telah berlalu sejak Kaisar Hua dilaporkan tewas dalam pertempuran di Perbatasan Utara. Lima belas tahun sejak ia mengukuhkan kekuasaan di singgasana, dengan tangan besi terbungkus sutra. Lalu, angin dingin berdesir, membawa aroma *plum blossom*—aroma yang sangat dikenalnya. Sebuah suara, lembut namun dalam, memecah keheningan. "Lian... apakah kau masih mengingatku?" Ratu Lian berbalik perlahan. Sosok itu berdiri di ambang pintu, diselimuti bayangan. Namun, matanya—setajam elang, sehangat mentari pagi—tak mungkin salah. Kaisar Hua. "Hua... kau... *hidup?*" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Hidup," jawabnya, melangkah mendekat. Cahaya lilin menari di wajahnya, mengungkap kerutan halus di sekitar mata, cerita yang tak terucap tentang pengkhianatan dan perjuangan. "Kematianku... diatur dengan cermat. Untuk menguji kesetiaanmu, Lian. Untuk melihat apakah kau pantas memegang kekuasaan." Ratu Lian menahan napas. "Kau... kau tahu?" "Aku tahu segalanya, Lian. Aku melihatmu membungkam lawan-lawanku, menyingkirkan mereka yang meragukan hakmu. Aku melihatmu membangun kerajaan ini menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tapi aku juga melihat... kesepianmu." Dia mendekat, mengulurkan tangan. Bayangannya menyentuh wajah Ratu Lian, sentuhan dingin yang membangkitkan gelombang emosi yang telah lama dipendam. "Kau mengira aku korban, Lian? Kau mengira aku ditipu dan ditinggalkan?" Kaisar Hua tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku *menciptakan* drama ini. Aku memberimu peran, Lian. Dan kau... kau memainkannya dengan sempurna." Ratu Lian menatapnya, matanya berkilat marah dan putus asa. "Kau... kau memanfaatkanku?" Kaisar Hua meraih dagunya, mengangkat wajahnya agar tatapan mereka bertemu. "Aku memberimu kekuatan, Lian. Kekuatan yang tidak akan pernah kau miliki jika aku tetap di sini. Dan sekarang... saatnya membayar harga." Dia melepaskan cengkeramannya. Ratu Lian mundur selangkah, merasa terhuyung. Semua yang dia yakini, semua yang dia perjuangkan, ternyata hanya *panggung* yang dibangun oleh seseorang yang dia cintai, seseorang yang dia pikir telah meninggal. "Apa yang kau inginkan, Hua?" tanyanya, suaranya bergetar. "Aku ingin kerajaanku kembali, Lian. Kerajaan yang telah kau bangun di atas kebohongan dan pengorbanan. Dan aku akan mendapatkannya. Kau akan turun takhta, secara sukarela atau tidak." Ratu Lian menatap mata Kaisar Hua, mata yang dulu dipenuhi cinta dan sekarang hanya ada perhitungan dingin. Dia mengerti. Dia tidak pernah menjadi ratu. Dia hanya *boneka*. Kaisar Hua membungkuk sedikit, memberikan penghormatan dingin. "Selamat malam, Yang Mulia. Sampai jumpa di upacara penobatan." Dia berbalik dan menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan Ratu Lian sendirian, di tengah lorong istana yang sunyi. *Dan Ratu Lian tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar kalah.*
You Might Also Like: Cody Johnson Rocks Fiddlers Green With

0 Comments: