Oke, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kaisar itu Menangis, Tapi Air Matanya Bukan untuk Rakyat.** Lorong istana itu *sunyi*. Hanya langkah kaki Kaisar Zhao yang menggema di antara pilar-pilar giok yang menjulang tinggi. Malam itu, kabut menggantung rendah, merayapi pegunungan seperti hantu-hantu masa lalu yang kembali menagih janji. Zhao berhenti di depan pintu usang, ukiran naga di permukaannya nyaris pudar dimakan waktu. Di baliknya, bersemayam rahasia yang selama sepuluh tahun terakhir, menghantuinya setiap malam. "Masuklah," suara dari dalam begitu tenang, namun mampu menusuk hingga ke tulang sumsum. Itu suara Yun, tabib istana yang dulu dianggap tewas bersama permaisuri dalam kebakaran misterius. Zhao mendorong pintu. Aroma dupa cendana menyambutnya, menutupi bau apak yang menempel di dinding. Yun duduk bersila di atas futon, wajahnya sayu namun matanya setajam elang. "Yun… Kau… hidup?" Zhao berucap lirih, seolah takut membuyarkan ilusi. Yun tersenyum tipis. "Hidup, Yang Mulia. Lebih tepatnya, *bangkit*." "Kebakaran itu… permaisuri…" Zhao terdiam, tak sanggup melanjutkan. Yun menghela napas. "Permaisuri adalah pion. Kita semua adalah pion, Yang Mulia. Kecuali… *sang pemain*." Zhao mendekat, jantungnya berdebar kencang. "Siapa… siapa pemain itu?" "Dulu, aku mengira Andalah pemainnya, Yang Mulia. Kaisar yang kuat, berwibawa… Tapi aku salah." Yun menatap Zhao dengan tatapan menusuk. "Air mata Yang Mulia malam ini, bukan untuk rakyat. Air mata itu hanya untuk diri sendiri." "Apa maksudmu?" Zhao bertanya, suaranya bergetar. Yun mengangkat sebuah kotak kecil dari kayu cendana. Dibukanya kotak itu, memperlihatkan sebuah jepit rambut perak berbentuk bunga plum. Jepit rambut milik permaisuri. "Jepit rambut ini… *tidak terbakar* dalam kebakaran itu, Yang Mulia. Karena kebakaran itu tidak pernah terjadi." Zhao terhuyung mundur. "Tidak… ini tidak mungkin…" "Mungkin, Yang Mulia. Dan Andalah dalangnya." Yun berdiri, menghadap Zhao dengan tatapan dingin. "Anda menyuruh saya untuk membuat ramuan yang membuat permaisuri seolah-olah meninggal. Anda ingin bebas dari beban, dari politik istana, dari… *cinta*." Zhao menggelengkan kepala, air mata mengalir di pipinya. "Aku… aku tidak ingat…" Yun tersenyum sinis. "Karena Anda tidak pernah tahu, Yang Mulia. Andalah pionnya. Aku yang merancang semuanya. Kebakaran palsu, kematian permaisuri, dan… *amnesia* Yang Mulia." Zhao menatap Yun dengan tatapan kosong. Kebenaran itu menghantamnya seperti gelombang pasang. Ia, seorang kaisar, hanyalah boneka di tangan seorang tabib yang dianggap mati. Yun mendekat, berbisik di telinga Zhao. "Dan sekarang, Yang Mulia… saatnya *sandiwara* ini berakhir." Di tengah kesunyian lorong istana, hanya hembusan angin malam yang menjawab. Dan kaisar yang menangis itu, akhirnya menyadari: *bahwa dirinya adalah korban dari rencananya sendiri, sebuah rencana yang bahkan tak pernah ia sadari telah dibuat.*
You Might Also Like: Unveiling Hidden Structure Of Elephant

0 Comments: