**Janji yang Diucapkan di Antara Mayat** Debu berterbangan, menari-nari di atas wajah-wajah kaku yang terbaring tanpa nyawa. Aroma mesiu b...

Harus Baca! Janji Yang Diucapkan Di Antara Mayat Harus Baca! Janji Yang Diucapkan Di Antara Mayat

Harus Baca! Janji Yang Diucapkan Di Antara Mayat

Harus Baca! Janji Yang Diucapkan Di Antara Mayat

**Janji yang Diucapkan di Antara Mayat** Debu berterbangan, menari-nari di atas wajah-wajah kaku yang terbaring tanpa nyawa. Aroma mesiu bercampur anyir darah, menyengat hidung, menusuk kalbu. Di tengah puing-puing mimpi yang hancur, Li Wei berdiri. Jubahnya koyak, pedangnya berlumuran noda merah yang terlalu pekat. Pandangannya terpaku pada sosok yang tergeletak tak jauh darinya. Xiao Zhan. Dulu, mereka berjanji di bawah pohon persik yang bermekaran. Janji setia, janji sehidup semati. Janji untuk selalu melindungi satu sama lain, tak peduli badai menerjang. Tapi janji itu, seperti kelopak persik yang gugur diterpa angin, kini tinggal kenangan pahit. Li Wei berlutut, tangannya gemetar menyentuh pipi Xiao Zhan yang dingin. "Xiao Zhan…lihat aku," bisiknya, suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh kehancuran. "Aku…aku *terlambat*." Mata Xiao Zhan terbuka sedikit. Sebuah senyum getir terukir di bibirnya yang pucat. "Wei…akhirnya kau datang…" suaranya nyaris hilang, seperti bisikan angin. Li Wei mencengkeram erat tangan Xiao Zhan. Air matanya menetes, membasahi wajah kekasihnya. "Maafkan aku. Maafkan aku karena *tidak* bisa melindungimu. Aku bersumpah, Xiao Zhan, aku bersumpah di depan semua mayat ini, aku akan membalas dendam atas kematianmu. Aku akan membuat mereka membayar atas semua yang telah mereka lakukan!" Xiao Zhan menggeleng lemah. "Jangan… Wei… jangan kotori tanganmu dengan darah. Biarkan kedamaian menghampiriku..." Li Wei terisak. "Tidak, Xiao Zhan! Mereka merebutmu dariku! Mereka merebut kebahagiaanku! Aku *tidak* bisa membiarkan ini begitu saja!" Xiao Zhan berusaha menggapai wajah Li Wei. Sentuhannya begitu lemah, namun penuh ketulusan. "Wei…ingat janjimu…ingat janjimu padaku…" Napas Xiao Zhan terhenti. Matanya terpejam selamanya. Li Wei meraung, melepaskan emosinya yang terpendam. Dendam membara di dadanya, membakar habis semua sisa-sisa harapan. Bertahun-tahun kemudian, nama Li Wei menjadi momok yang menghantui seluruh kerajaan. Setiap orang yang terlibat dalam kematian Xiao Zhan, satu per satu, merasakan murkanya. Istana-istana runtuh, dinasti berganti, dan darah mengalir seperti sungai. Li Wei tidak secara langsung membunuh mereka, tetapi ia menempatkan mereka pada posisi di mana *takdir* sendiri yang menghakimi. Seolah alam semesta ikut bersuara, menuntut keadilan atas nama cinta yang terkhianati. Dia membangun sebuah tugu peringatan yang menjulang tinggi di atas kuburan Xiao Zhan, di bawah pohon persik yang kini kembali bermekaran. Setiap tahun, di hari kematian Xiao Zhan, ia akan berdiri di sana, menatap kosong ke arah langit. Di wajahnya, terlukis sebuah ironi yang pahit—cinta yang abadi dan dendam yang tak pernah terpuaskan, menyatu menjadi sebuah monumen kesedihan. Apakah ini cinta sejati, atau hanya dendam yang bersembunyi di balik topeng kerinduan?
You Might Also Like: Unveiling Your Perfect Smile Dental

0 Comments: