Berikut adalah kisah Dracin pendek berjudul 'Kau Mengkhianati Aku dengan Tenang, Seolah Cinta Tak Pernah Berarti', dengan nuansa yang diminta: *** Lorong Istana Timur bergaung kosong. Dindingnya, dulu dipenuhi sutra berwarna giok dan emas, kini kusam, seolah debu waktu tak henti menggerogoti kejayaan. Kabut tipis menyusup dari celah jendela, membawa aroma dingin pegunungan dan sesuatu yang lebih pedih: pengkhianatan. Lima tahun telah berlalu sejak Putri Lian Hua dinyatakan hilang di perbatasan. Lima tahun sejak Kaisar Chen memeluk erat abu jasad yang **KATANYA** miliknya, matanya redup bagai bintang yang sekarat. Lima tahun yang ia lalui dalam kesunyian, mengutuk suku barbar yang konon menculiknya. Namun, malam ini, di bawah rembulan pucat yang mengintip dari balik kabut, Putri Lian Hua kembali. Dia berdiri di ujung lorong, siluetnya ramping dan anggun. Gaunnya bukan lagi sutra istana, melainkan kulit domba berwarna abu-abu, cocok dengan matanya yang kini setajam elang. Wajahnya, meski masih menyimpan kecantikan yang dulu memikat hati Kaisar Chen, dilukiskan oleh ketegasan dan pengalaman. Kaisar Chen, yang tengah menanti di singgasana usang, mendongak. "Lian Hua... kau... hidup?" bisiknya, suaranya serak. Sang putri melangkah maju, setiap hentakan langkahnya bagai pukulan tambur kematian. "Ya, Ayahanda. Aku hidup. Meskipun tidak dengan cara yang Anda harapkan." "Di mana saja kau selama ini? Suku barbar… mereka menyiksamu?" Lian Hua tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Siksaan? Oh, Ayahanda, *siksaan sejati* adalah hidup dalam kepalsuan, bernapas dalam kebohongan." "Apa maksudmu?" Kaisar Chen bangkit, suaranya bergetar. Lian Hua berhenti tepat di hadapan singgasana. Dia menatap Kaisar Chen lurus-lurus, tatapan yang menembus sampai ke tulang sumsumnya. "Kau mengirimku ke perbatasan, Ayahanda. Bukan untuk menikahi pemimpin suku barbar seperti yang diumumkan. Melainkan untuk… *memulai perang*." "Itu tidak benar! Aku…" Kaisar Chen tercekak. "Kau tahu betul, Ayahanda. Kau tahu bahwa pernikahan itu hanyalah dalih. Kau ingin suku barbar itu musnah, tanah mereka menjadi milikmu. Kau rela mengorbankan putrimu sendiri demi ambisimu yang tak terbatas." Suara Lian Hua lembut, namun setiap kata terasa bagai racun yang merambat perlahan. "Tapi, abu itu… jasad…" "Itu jasad pelayanku, Ayahanda. Yang dengan senang hati menukar nyawanya demi kebebasanku. Aku melatihnya selama bertahun-tahun untuk menjadi *seperti* diriku. Tipu daya yang sempurna, bukan?" Kaisar Chen terhuyung mundur. "Kau… kau tahu?" "Aku selalu tahu. Aku tahu dari mata-mata yang kau kirim untuk mengawasiku. Aku tahu dari bisikan para kasim yang berkhianat. Aku tahu… karena aku *bukan* putri bodoh yang kau kira." Lian Hua berbalik, menyisakan Kaisar Chen yang terpaku di singgasananya. Kabut di lorong semakin tebal, menyembunyikan sang putri dari pandangan. "Jangan khawatir, Ayahanda," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan mengambil apa yang menjadi hakku. Dan kau… akan menyaksikan keruntuhanmu sendiri." Lian Hua menghilang di balik kabut. Kaisar Chen duduk terhuyung di singgasananya, tatapannya kosong. Dia merasa seperti pion yang digerakkan tanpa sadar dalam permainan yang jauh lebih besar. Di kejauhan, terdengar suara derap langkah kaki, semakin lama semakin dekat. Suara itu membawa harapan bagi rakyat yang tertindas… dan kengerian bagi sang Kaisar. *** **Dan ketika tirai akhirnya jatuh, terungkaplah bahwa korban yang sesungguhnya hanyalah alat yang digunakan sang dalang untuk mencapai tujuannya.**
You Might Also Like: 23 China Through Southeast Asian Lens
0 Comments: